Kemenangan Telak Apparel Lokal di Djarum Superliga Badminton 2017

1Awal Tahun 2017 laluSurabaya menjadi tuan rumah untuk perhelatan akbar olahraga tanah air, Djarum Superliga Badminton 2017 pada 19-26 Februari 2017. Pertarungan klub-klub badminton internasional, dihuni oleh pemain-pemain bintang sebut saja pasangan ganda putra Lee Yong Dae –  Kim Sa Rang, Tan Boon Heong, Jonathan Christie, Sony Dwi Kuncoro, Greysia Polii, Markis Kido, M. Ahsan dan banyak nama besar lain yang telah akrab di kalangan pecinta olahraga ini. DBL Arena menjadi saksi bisu pertaruhan besar kedigdayaan sponsor-sponsor raksasa bertarung di 3 lapangannya. Kejutan dihadirkan tim putri Mutiara Cardinal Bandung, mengandalkan mayoritas pemain hasil binaan, berhasil menjadi juara setelah di final berhasil mengalahkan tim pendatang baru Berkat Abadi Banjarmasin yang berisikan banyak pemain senior. Di sektor putra praktis lebih minim kejutan, tim bertabur bintang Musica kembali mempertahankan gelar juara. Cerita apa yang sekiranya tercecer dari perhelatan tersebut?!

pilihan-owibutet-57b430b6139773ee4fbdfd5b

Lebih dari dua dekade lamanya, prestasi dan cerita gilang-gemilang perbulutangkisan Indonesia “ditunggangi” dan diinvasi habis-habisan oleh sponsor apparel impor. Sebut saja yang paling akrab dan telah malang melintang seperti Yonex (Jepang). Ada juga duo maut Victor (Taiwan), dan Li Ning (China) yang terus-menerus mendominasi panggung penyerahan medali. Kapitalisme brand olahraga ini tentunya berbanding lurus dengan nilai kontrak sponsorship yang disodorkan, ditambah kemajuan teknologi sport science yang ditawarkan sebuah brand sebagai extra gimmic. Dua faktor utama pendongkrak market value sebuah brand olahraga: Teknologi dan Endorser.

4

Namun yang membuat kita layak bergembira adalah Djarum Superliga 2017 mampu menyuguhkan sejarah berbeda. Layaknya kisah heroik Robin Hood yang mencuri harta si kaya, dua apparel lokal Indonesia juga secara heroik menyelinap mencuri prestasi di dua sektor sekaligus! Sektor putri Mutiara Cardinal mengenakan apparel RS yang berbasis di Jawa Barat dan sektor putra Musica mengenakan apparel Flypower milik pebulutangkis legendaris Indonesia, Hariyanto Arbi. Mengusung tagline “Dari Indonesia Mendunia”, Flypower membuktikan melalui desain-desain jersey yang diusung. Bahkan lebih keren lagi jersey yang dikenakan para punggawa tim Musica bermotif Batik Awan Megamendung khas Cirebon dengan nama varian Mandalawangi. Apalagi, mereka juga menjadi rekanan resmi Djarum Superliga Badminton 2017 dan memiliki merchandise booth yang jarang sepi diserbu oleh para badminton enthusiast. Menarik bukan?!

Koreksi Yang Diperlukan

5Hal tersebut membuktikan dengan keberanian berspekulasi, kejelian di beberapa aspek dan sedikit keberuntungan, apparel Indonesia sebetulnya sangat bisa diperhitungkan dan dikenal. RS katakanlah, beberapa kali sebetulnya telah mengalami “lucky blow” ketika Sony Dwi Kuncoro yang merupakan salah satu atlet endorsernya secara mengejutkan mampu menjuarai Chinese Taipei Open 2015 dan yang terakhir juga menyabet juara di Singapore Open 2016, dan patut menjadi highlight tersendiri ketika di semifinal mampu mengalahkan legenda Tiongkok, Lin Dan! Hal ini sayangnya tidak didukung dengan support yang pas dari sisi pemasaran. Bayangkan saja, apparel dengan prestasi tingkat dunia bahkan tidak memiliki website mereka sendiri. Ok, mereka hadir di beberapa platform penjualan seperti Tokopedia, namun tetap tidak cukup update, bahkan masih memasang beberapa produk yang sebetulnya sudah sold out. Apalagi titik berat pemasaran kebanyakan masih dipegang agent to agent, bukannya tersentralisasi. Apabila sudah begini, jalan akhir biasanya cukup rumit untuk mendapatkan produk yang diinginkan: pemesanan dengan minimum order.

Mari kita coba berandai-andai, apabila apparel RS ini, atau apparel lain yang memiliki kondisi dan peluang yang sama, mencoba lebih memaksimalkan branding endorsernya dengan pendekatan desain dan viral kekinian, apalagi setelah juara, tentu demand dari customer akan meningkat. Detail kecil dengan potensi besar inilah yang sering terlewatkan dan tak jarang membuat saya sering gregetan, such a waste! Alasan branding membutuhkan biaya besar terasa tidak lagi relevan ketika sebuah website bisa didirikan bahkan dengan biaya Rp. 200.000 per-Tahun, dan ratusan alternatif platform dan social media bisa diakses secara gratis.

Flypower nampaknya jauh lebih siap dalam menangkap celah ini. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa Flypower menjadi rekanan resmi Superliga Badminton 2017, memiliki merchandise booth sendiri, website dengan tampilan keren dan user friendly, platform dan social media yang update, meskipun masih tidak terdapat fitur online purchase langsung dari website, namun setidaknya masih cukup mudah mendapatkan produk Flypower, salah satunya melalui platform BliBli yang telah kami amati. Tidak berlebihan apabila brand ini bisa disebut sebagai acuan strategi pemasaran yang terdepan, khususnya di bidang apparel olahraga bulutangkis.

Terpisah dari berbagai keterbatasan, ada strategi unik dari beberapa apparel untuk tidak mengadakan fitur penjualan langsung di website mereka. Banyak pula kisah beberapa apparel lokal yang sukses dan layak menjadi role model bagaimana mereka mampu menjadi sebuah brand yang tidak hanya laku di pasaran, namun juga sustain. Menarik untuk melihat sisi lain dan strategi yang digunakan untuk memenangkan bahkan mendominasi pasar. Beberapa materi tersebut yang akan segera kami bahas secara berkala di beberapa artikel berikutnya. (bjw)