Sepanjang Jalan Kenangan

Kontributor: Obed Bima Wicandra / Visual: Barry Junius Widjaja

WP_20170416_13_10_25_Pro

“Kenangan itu cuma hantu di sudut pikiran. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia akan tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.” – Dee Lestari, Perahu Kertas.

Apakah kenangan hanya berhubungan dengan sosok? Tidak selalu. Bisa jadi lagu yang pernah didengar, makanan yang pernah dikecap bersama, aroma parfum yang pernah tercium, langkah kaki yang pernah terayun, genggaman tangan yang begitu hangat, atau bayangan senyum sekilas yang meneror hadir di setiap mimpi. Itu kemungkinan-kemungkinan yang bisa menghubungkan ingatan kita pada suatu sosok. Kenangan yang tak pernah terlupakan meski mungkin pernah memaksanya untuk lenyap dari ingatan.

Ia, kenangan itu, dalam tulisannya Dee Lestari disetarakan dengan “hantu”. Posisi yang tak disukai, sebenarnya. Berada di sudut pula. Saya membayangkan, seperti seorang anak yang melamun membayangkan sesuatu di suatu sudut kelas. Begitu pasif dan tak berdaya. Mungkin ia menghabiskan waktu sekian menit yang seharusnya bisa dipakai untuk berlari-larian bersama teman-temannya. Ya, kenangan-kenangan itu dalam pandangan Dee begitu mati dan tak mungkin akan nyata. Freud, dalam psikoanalisisnya, menyatakan bahwa hanya orang-orang neurotik yang menderita kenangan-kenangan. Untuk yang kekinian, mungkin akan banyak neurotis yang “rela” hidup dalam kenangan, “baper” katanya. Tentu saja pernyataan ini mengandung unsur candaan (meski mungkin ada benarnya juga).

Entah, bagaimana jika kemudian ada pertanyaan seperti ini? Apa kenanganmu terkait olahraga? Saya memiliki kenangan manis dan pahit terkait olahraga. Kenangan pahitnya, pernah pingsan gara-gara kena bola waktu main sepak bola di lapangan saat masih SD. Manisnya, pernah bersepeda meski jauh dari rumah demi melihat rumah seorang cewek yang ditaksir saat SMP. Sebenarnya jika dicermati, kedua hal tersebut sama-sama pahitnya. Bagaimana bisa hanya melihat rumah bisa terpenuhi hasrat? Benar kata Freud, mungkin hanya orang neurotis yang berpandangan hal tersebut sebagai kenangan. Hahaha…

Dalam era digital ini, segala sesuatu tampak begitu mudah untuk didokumentasikan. Era bahwa segala hal bisa difoto, kemudian disebarkan. Era bahwa kenangan tidak akan tinggal diam dan mengendap sendiri, tetapi bisa dibagikan ke orang lain. Di sinilah, maka identitas yang kemudian akan membedakan seseorang dengan yang lain, termasuk di situ kenangan yang dibagi. “Identity is the name we call ourselves, and usually it is the name we announce to others that we are as we act in situations”, begitu kata John M. Charon, penulis buku “Symbolic Interactionism: An Introduction, An Interpretation, An Integration (2007). Saat mengenang, termasuk di situ biasanya ada harapan. Nah, harapan itulah identitas yang tiap orang berbeda. Identitas diri yang melibatkan hal begitu kompleks, dinamis, dan selalu akan dapat berubah.

2.jpgKenangan yang kemudian menjelma menjadi sesuatu yang harus di-“ada”-kan dalam bentuk material itu yang bagi beberapa orang sangat penting. Di sini faktor tubuh sebagai instrumen penting dalam “berkomunikasi” perihal kenangan menjadi faktor utama. Fans yang terlanjur cinta dengan tim pujaannya atau salah seorang pemain yang diidolakannya akan menerobos batas meng-“ada”-kan kecintaannya dalam bentuk material. Postur tubuhnya mungkin berbeda dengan sang pemain, tetapi penting untuk memiliki jersey yang sama dikenakan oleh idolanya tersebut. Dalam hal ini tubuh yang dibangun dalam praktik konsumsi telah menjadi simbol bagi segala sesuatu (Iswandi Syahputra, 2016).

Dengan demikian, ada kalanya kenangan itu simbol atas diri kita pada sesuatu. Mereka yang memiliki kenangan pada pertandingan saat Persib melawan Persebaya akan bangga menunjukkan tiket saat pertandingan, jersey yang dipakai, syal yang dikenakan, dan berbagai pernik-pernik lainnya. Demikian pula hal-hal yang melatari kenangan itu akan meluncur deras untuk dibagikan. Hal yang sama juga pasti dialami oleh mereka yang usai menonton pertandingan basket. Bisa dimaklumi, bila kemudian di Amazon ditawarkan benda-benda memorabilia terkait hal tersebut. Permen karet yang telah mengering dan mengeras pun akan menjadi nilai komoditas tinggi buat seorang fans saat mengetahui itu adalah permen karet bekas pemain Chicago Bulls.

Dalam pandangan budaya populer, komodifikasi tidak terelakkan lagi. Benda apapun akan menjadi nilai penting dan memiliki historia yang tak semua orang bisa dapatkan. Masih ingatkah pada Martunis? Anak kecil Aceh korban tsunami yang menyita perhatian publik, karena rupanya sang mega bintang sepak bola sejagad, Christiano Ronaldo, menjadikannya anak angkat setelah sebelumnya membawa Martunis ke Portugal. Cerita tentangnya begitu menonjol di media-media. Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi? Banyak faktor. Salah satunya adalah jersey tim nasional Portugal yang dikenakan oleh Martunis. Apakah jersey yang dikenakannya itu dalam kondisi bagus? Tidak. Melainkan jersey yang telah sobek di sana-sini karena tsunami. Bagi Martunis, kenangan-kenangan itu tak akan terganti dengan apa pun juga, karena di situlah simbol tentangnya. Tentang Martunis yang gila bola, tentang kenangan yang tak hanya dilamunkan, melainkan kenangan yang di-“ada”-kan kemudian oleh keadaan. Martunis kini merangkak menjadi pemain bola beneran. Ya, ia adalah kenangan yang mewujud itu.

Kenangan selamanya akan membekas dalam ingatan. Tinggal apakah kita akan menjadikannya hantu di sudut pikiran, ataukah meng-“ada”-kannya dalam sebentuk wujud yang merupakan simbol diri kita?  Selamat datang dalam dunia kenangan, dalam dunia penuh simbol dan citra.


Obed Bima Wicandra / Dosen DKV UK Petra yang juga fans Liverpool FC.