Melampaui Batas Rasional dan Material

1Memorabilia olahraga merupakan sebuah produk sejarah. Merawatnya sama dengan merawat sejarah yang terkandung dan telah dilalui suatu benda tersebut. Olehnya, dimensi sebuah kebendaan nampaknya sudah terlampaui. Karena katakanlah mengoleksi sebuah jersey, atau sepatu misalnya. Ketika memandangi memorabilia tersebut, kita tidak hanya memandangi secara harafiah absurdisitas sebuah bentuk benda (form), sebaliknya imajinasi, sisi emosional kita melihatnya dan membayangkan ketika benda-benda tersebut pernah dipakai (atau serupa dengan yang pernah dipakai) sang pemain, mencetak gol/poin, berselebrasi, mengangkat piala dan lain-lainnya yang kita kenang (value).

Saya ingat di 1997, ketika ayah membelikan saya sepasang sepatu basket Air Jordan XII yang legendaris itu. Begitu girangnya sampai-sampai saya membawa sepatu tersebut tidur bersebelahan dengan saya. Hingga kini memori yang terbesit ketika melihat sepasang sepatu berwarna putih tersebut adalah kenangan akan kebahagiaan saat memilikinya, tentang mendiang ayah saya, dan bagaimana semua anak di sekolah dasar saya saat itu bermain basket dengan menjulurkan lidah, meniru gaya Michael Jordan. Maka rangkuman dari sejarah tersebut kita pindahkan ke dalam sebuah memorabilia yang representatif itu. Kita memberinya ‘nyawa’ dengan memaknai lebih sebuah objek sejarah menjadi sebuah subjek sejarah.

2Tak akan mengherankan melihat kolektor yang mengoleksi sebuah jersey yang masih penuh lumpur bekas pertandingan. Juga tak jarang melihat kolektor yang menghabiskan puluhan atau ratusan juta demi sebuah sepatu bekas pemain. Karena komoditas sejarah nilainya begitu relatif, pasti ada sisi sentimentil di baliknya dan terlebih yang mengoleksinya ialah orang-orang yang memandang segala sesuatu dari dimensi spiritual sebuah objek jauh melampaui nilai intrinsiknya. Apakah seorang kolektor memorabilia olahraga akan begitu peduli dengan kandungan bahan poliester, nylon, katun, latex atau apapun itu ketika ia rela menghabiskan puluhan juta rupiah untuk satu baju bola?! Tidak! Yang mereka pedulikan adalah nilai yang tidak terlihat dan tidak terukur. Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah itu rasional? Max Weber pada salah satu teorinya tentang rasionalitas, mengatakan bahwa sebuah tindakan sosial, apapun wujudnya hanya dapat dimengerti menurut arti subjektif dan pola-pola motivasional yang berkaitan dengan itu.

Sederhananya, mengoleksi sebuah memorabilia, termasuk memorabilia olahraga tentu lekat korelasinya dengan pengalaman (apriori). Sehingga kita memiliki motivasi tertentu untuk mengumpulkannya sebagai ‘product of memories’. Rasionalitas di dalamnya tergantung dari sudut pandang si pemerhati. Dari sudut pandang seseorang yang tidak menggemari olahraga dan tidak punya pengalaman yang serupa dengan sang kolektor, tentu menganggap mengoleksi sebuah baju kotor bekas pertandingan lengkap dengan bau bekas keringat si pemain adalah sebuah kegilaan yang maksimal. Sama gilanya dengan kantong plastik berisi udara dari konser Kanye West yang sempat laku ribuan Dollar di situs eBay. Namun bagi orang-orang yang memiliki kegemaran dan pengalaman yang sefrekuensi, akan menganggapnya sebagai ‘pusaka’ yang wajib dilestarikan.

Tentu hal ini membuka peluang bermunculannya berbagai komunitas penghobi, yang terdiri dari para kolektor memorabilia untuk mewadahi ‘kegilaan’ semacam ini. Dan untuk salah satu alasan itu pula Memorabola hadir sebagai medium pewarta ‘kegilaan’ yang menyenangkan ini beserta seluk beluk kenangan yang terkandung. Bahwa dimanapun anda berada dan memiliki minat yang sama, percayalah, anda tidak sendirian! *LOL! Let’s get started! Memorabola, kecil punya andil! (bjw)