Moment of Joy

Kontributor: Wahid Nugroho

fpApa yang paling berkesan dari Piala Dunia 1998? Bagi saya, hal paling berkesan dari gelaran sepakbola sejagat yang dihelat di Perancis itu adalah sepak terjang sebuah negara mungil bernama Kroasia. Sebagai debutan, Kroasia berhasil membuat kejutan manis di ajang empat tahunan itu. Meski sempat takluk di tangan Argentina pada fase grup, mereka berhasil melenggang hingga ke semifinal dengan mengalahkan generasi emas Rumania, meremukkan perlawanan Panzer tua Jerman, dan melakukan perlawanan sengit terhadap tuan rumah Perancis sebelum Lilian Thuram mengubur mimpi Davor Suker dan kawan-kawan dengan brace indahnya.

Kroasia sendiri akhirnya meraih juara ketiga setelah berhasil menaklukkan tim kuat Belanda. Sementara penyerang veteran mereka, Davor Suker, berhasil keluar sebagai top skorer turnamen dengan enam gol. Padahal di penghujung milenium itu, ada sederet penyerang terbaik dunia yang turut meramakan turnamen tersebut. Sebut saja Ronaldo, Christian Vieri, Gabriel Batistuta, Rivaldo, Marcelo Salas, dan nama-nama beken lainnya.

fpsukerSelain terpesona dengan permainan spartan yang ditampilkan anak-anak asuh Miroslav Blazevic sepanjang turnamen, ada hal lain yang membuat saya sulit mengalihkan pandangan dari kesebelasan yang disesaki oleh pemain-pemain semisal Zvonimir Boban, Mario Stanic, dan Robert Jarni itu. Adalah jersey kandang mereka dengan motif kotak-kotak merah putih di pundak sebelah kanan yang menyedot perhatian saya ketika itu.

whitekroaUsai Piala Dunia, saya lalu meminta sejumlah uang kepada almarhum bapak untuk membeli jersey putih yang keren itu. Sayang, ternyata jersey tersebut susah dicari. Saya sudah berkeliling ke Blok M, Cipulir, dan ke pusat perbelanjaan lainnya, namun hasilnya nihil. Baru menjelang hari raya Idul Fitri di tahun 1999, saya mendapatkan jersey tersebut namun versi awaynya yang berwarna biru. Jersey itu saya dapatkan di sebuah toko olahraga milik seorang India dengan surban hitam di kepalanya. Bahannya kulit jeruk dan berlengan panjang. Meski ukurannya masih terlalu besar buat saya, jersey itu saya pakai dengan penuh kebanggaan di hari raya lebaran. Mamak saya sampai merasa heran dengan tingkah laku anak sulungnya ini yang tidak mau mengenakan baju koko saat salat Ied dan lebih memilih jersey Kroasianya yang kebesaran itu.

Nyaris dua puluh tahun kemudian, di linimasa media sosial, saya melihat jersey kandang Kroasia yang sejak dulu saya impikan itu dilelang oleh seorang teman. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengikuti lelang itu dan, Alhamdulillah, saya memenangkannya. Kemenangan lelang itu bahkan sampai saya ceritakan kepada istri yang menanggapinya dengan mimik keheranan: bagaimana bisa selembar kain bisa membuat suaminya sedemikian berbahagia. Begitu mungkin ia bertanya-tanya di dalam hatinya.

Seorang novelis peraih Nobel asal Turki, Orhan Pamuk, pernah menulis tentang Moment of Joy, momen kebahagiaan bagi seseorang. Katanya, (momen kebahagiaan) itu adalah sesuatu yang terkadang datang tanpa disadari, namun mereka yang mengalaminya percaya sepenuh hati bahwa ada sebuah peristiwa yang – karena saking menyenangkannya – membuat peristiwa itu berlangsung sedemikian cepat. Saking cepatnya sehingga orang yang mengalaminya baru menyadarinya setelah momen itu berlalu dan merasakan kebahagiaan yang membuncah-buncah saat kembali mengenangnya.

2shiBagi saya, salah satu kenangan yang hadir ketika melihat – dan pada akhirnya bisa memiliki – jersey Kroasia itu adalah kenangan tentang sebuah hari raya yang tenang sembilan belas tahun yang lalu. Hari ketika sayur santan dan sajian daging segala rupa belum lagi membuat kepala berat dan bahu kaku, serta nikmatnya emping melinjo yang belum jua membuat kaki berdenyut-denyut dan dada berdegup-degup.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.


Wahid Nugroho / Penyuka sate kambing, Tifosi Parma, dan Fans Southampton. Kini tinggal di Jakarta Barat.