Adik Mardina Irawan: Dua Sisi

Kontributor: Adik Mardina Irawan.

duasisi1Saya lahir di keluarga yang biasa saja, ayah ibu, tiga kakak, dan saya sebagai bungsu. Sederhana. Sepak bola rasanya sudah jadi bagian dari hidup saya sejak kecil. Bermain bersama kawan-kawan, main setiap hari tak kenal waktu, bola plastik, tanpa alas kaki, seringkali dimarahi orang tua karena main bola dan tidak tidur siang. Apalagi bermain sewaktu hujan, itu luar biasa rasanya. Itulah jiwa kami. Sepak bola benar-benar menjadi hidup. Meski begitu sayangnya di kampung saya tidak ada yang menjadi pemain bola betulan pada akhirnya. Saya rasa itu dikarenakan tidak ada sosok yang mensupport kami-kami ini untuk ke jenjang yang lebih tinggi. Jadilah kami hanya bermain untuk bersenang-senang, di lapangan, di jalan, di manapun hanya untuk bersenang-senang, itu saja.

Saya merasa itu bukan alasan saya tidak ingin mengejar mimpi. Atau setidaknya lebih baik daripada saya saat itu. Saya mulai mengikuti latihan di sekolah sepak bola untuk mengembangkan bakat saya. Beberapa SSB termasuk El Faza milik sang legenda, Mat Halil. Suatu hari ketika itu, 2011 kalau saya tidak salah ingat. Seorang saudara menginformasikan bahwa akan diadakan seleksi untuk Timnas Indonesia yang akan berlaga di Homeless World Cup 2012. Ketika itu jujur saya merasa enggan, karena saya merasa telah nyaman di kompetisi internal.

Saya mengingat ke belakang, ketika Abah Halil selalu berkata berkata: “kamu punya skill, tapi mentalmu harus lebih kuat!”. Begitu terus dan terus sampai saya bosan. Lalu saya lantas berpikir, kenapa saya tidak mencoba mengikuti seleksi?!

Saya ingin berbuat sesuatu yang lebih…lebih dari yang sekarang! Bukannya itu tujuan saya?!

Lalu saya memberanikan diri untuk mengikuti latihan di tim lokal bentukan Mas Doni Setiawan, seseorang yang berjasa mendorong saya untuk berbuat lebih. Saya mencoba untuk sekedar ikut berlatih, dan seharusnya kawan saya, Malik, yang terpilih untuk diberangkatkan ke Bandung, mengikuti turnamen proyeksi Homeless World Cup 2012 bernama League of Change (LOC), yang diselenggarakan oleh Rumah Cemara.

hwc6
Foto: Reegast Aje (FB)

Entah karena keberuntungan, atau memang jodoh saya, Malik memutuskan untuk tidak mengikuti LOC. Dan saya menggantikan posisinya. Yang jadi fokus saya adalah berlatih dan berlatih, membiasakan diri mengubah cara bermain dari lapangan besar menjadi cara bermain street soccer yang hanya berisi empat orang (termasuk kiper) dalam satu tim.

Dengan siapa saya bermain, siapa lawan saya, dari latar belakang seperti apa? Itulah tantangan saya selanjutnya. Tentu kegiatan ini mengusung misi sosial, di mana saya akan bermain bersama dan melawan pemain-pemain berlatar belakang marjinal seperti warga miskin kota (yang mana saya termasuk kategori ini pada saat didaftarkan), bekas pecandu narkoba, kawan-kawan ODHA, dan sebagainya. Awal mulanya orang tua saya tidak mengijinkan, karena saya sadar sosialisasi hal-hal semacam ini masih sangat minim, apalagi di kampung saya. Namun seiring bantuan dari kawan-kawan yayasan, orang tua saya bisa memahami dan berangkatlah saya ke LOC, Bandung.

417219_399906996690144_757052418_n
Foto: Reegast Aje (FB)

Turnamen dimulai, terlebih seleksi pemilihan pemain untuk Homeless World Cup 2012 (HWC 2012) juga telah dimulai. Kami semua, termasuk saya, sedang diamati. Kebetulan saat itu kontingen Jawa Timur menuai prestasi yang bagus.

Tiga minggu setelah turnamen itu…

Telepon saya berdering, Mas Ginan, bos Rumah Cemara mengabarkan bahwa saya terpilih untuk mengikuti seleksi pemain Timnas HWC 2012. Saya menyanggupi, dan Mas Doni pun akan turut bersama rombongan Timnas sebagai pemain sekaligus official. Cukup mengejutkan mengingat saya hanya bermain sesuai cara biasanya saya bermain.

Saya berangkat ke Bandung dan saya ingat betul test utama dan pertama adalah sebanyak mungkin memutari lapangan dalam waktu 12 menit. Saya melewati test tersebut dengan sukses, sangat sukses malah. Dan mungkin berdasar beberapa pertimbangan teknis non-teknis lain, terpilihlah saya di Timnas Indonesia untuk ajang Homeless World Cup 2012. Perasaan saya? Campur aduk! Biasa-biasa saja, tapi juga senang. Mungkin tidak dramatis, tapi jujur saja perasaan awal saya saat itu biasa-biasa saja. Selalu ada 2 sisi dalam kompetisi, menang atau kalah, terpilih atau tidak terpilih, sederhana. Oleh karena itu saya biasa-biasa saja.

hwc4
Foto: Fitra Ismu (FB)

Tapi seiring persiapan tim yang semakin dekat menyongsong HWC 2012, yang menyenangkan adalah, selain saya bisa melakukan sesuatu untuk Negara saya melalui sepak bola, sesuatu yang telah saya geluti seumur hidup, saya akhirnya juga bisa berkata: “Mexico, saya datang..!”

hwc2
Foto: Antaranews

Hasil di HWC 2012 jauh melampaui ekspektasi kami. Indonesia menjadi satu-satunya wakil Asia yang lolos hingga semifinal, bersanding dengan tiga raksasa Amerika Latin, sang tuan rumah Mexico, Brasil, dan Cile. Tidak akan setiap hari anda bisa berkompetisi bahkan mengalahkan Negara-Negara dengan tradisi sepak bola yang hebat. Tapi di HWC, kami (akhirnya) bisa berbuat sesuatu yang membanggakan Indonesia.

Meskipun kami akhirnya harus mengakui keunggulan tuan rumah di semi-final, kami tetap pulang dengan kepala tegak sebagai 4 besar di turnamen tersebut. Kami membawa misi bukan hanya sekedar menang, namun lebih daripada itu kami ingin mengubah stigma masyarakat mengenai kaum marjinal. Bahwa kaum yang terpinggirkan ini memiliki karya, sepak bola atau apapun namanya. Naif memang, tapi itu memang benar, setidaknya bagi saya.

Sepak bola bisa mengubah hidupmu…

Di Tanah Air, sesampainya di bandara, kami disambut bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Banyak orang yang tidak tahu menjadi tahu misi apa yang kami bawa. Media-media berbondong-bondong menceritakan prestasi mengejutkan anak-anak kampung yang hampir tidak jadi berangkat karena kekurangan dana ini. Kami pulang dengan kebanggaan. Siapa saya sebelumnya? Saya merasa seperti terlahir kembali sepulang dari Mexico. Meskipun kini saya tidak bermain di ranah profesional, tapi saya telah menuntaskan perjuangan saya, yang mana akan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya.

Sungguh, saya bersyukur setiap detiknya atas pengalaman luar biasa dalam hidup saya ini. Orang-orang yang berjasa membantu kami mewujudkan mimpi ini, yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Terima kasih…

hwc3
Foto: Dokumentasi UICS

Selalu ada dua sisi dalam hidup, dalam sepak bola pun begitu. Di satu sisi saya telah mewujudkan impian saya untuk melakukan perubahan yang saya bisa dengan hal yang saya cintai: sepak bola, dan di satu sisi lain saya akan kembali membumi, kembali ke hakikat saya bermain bola sewaktu kecil dulu, tertawa lepas bercanda dengan sahabat, bersenang-senang dan hanya bermain, itu saja.


bono.png

Adik Mardina Irawan / Pemain Tim Nasional Indonesia di Homeless World Cup 2012.

Koleksi Memorabilia HWC 2012 | Kumpulan Video HWC 2012 | Teaser