Fans Layar Baca

Kontributor: Wahid Nugroho


21124112_10209498244639705_224917431_n

Saya sangat mencintai sepakbola, meski sangat buruk dalam memainkannya.

Sebab utama mengapa saya mendaku diri sebagai pemain sepakbola yang buruk adalah soal stamina. Saya bukan pelari yang bagus. Baru lari sebentar, nafas saya akan terasa berat dan pendek-pendek. Payah sekali.

Begitu juga dengan tendangan saya. Lemah, dan jauh dari akurat. Pergerakan tanpa bola saya juga buruk. Jika tim saya diserang, saya memilih untuk melihat dari kejauhan tanpa tergerak untuk membantu pertahanan lantaran faktor pertama yang saya sebutkan di atas. Jika tim saya menyerang, saya juga tidak mengikutinya secara antusias melainkan berusaha mengambil keuntungan dari bola yang muntah dan menyambarnya ke gawang lawan pada kesempatan pertama saya mendapatkannya.

Tapi jika tim saya mencetak gol, maka sayalah yang biasanya paling kencang teriakannya. Begitulah.

Itulah sebabnya, saya lebih suka berposisi sebagai kiper. Penjaga gawang. Saya memang bukan penjaga gawang yang baik. Biasa-biasa saja. Terpilihnya saya sebagai kiper bukan karena saya yang paling jago dalam perkara menangkap dan menepis bola, melainkan karena tidak ada pilihan lain ketika nyaris semua orang berambisi menjadi pemain depan dan pencetak gol. Saya, dengan sukarela dan lapang dada, akan langsung mengiyakan permintaan teman saya, “Hid, elu jadi kiper aja ya.” Tidak masalah.

Saya memilih kiper karena di samping ia adalah posisi yang paling sedikit membutuhkan aktivitas berlari, saya juga suka mengamati bagaimana sebuah tim membangun serangan, lalu gagal, dan berbalik dengan susah payah untuk melindungi area pertahanan mereka. Area pertahanan di mana saya, sebagai kiper, adalah penjaga terakhirnya.

Jika saya mampu mementahkan sebuah serangan, maka saya akan berdiri dengan jumawa. Namun jika saya kebobolan, maka saya, tanpa sedikit pun rasa bersalah, akan dengan mudahnya menyalahkan barisan pertahanan yang tidak disiplin menjaga daerahnya. Lagi pula, apa yang bisa diharap dari seorang kiper amatir pangkat tiga seperti saya ini?

Saya memang pemain sepakbola yang buruk. Bukan hanya perkara teknik, tapi juga soal mentalitas. Tapi saya mencintainya.

Entah apa yang membuat saya mencintai sebuah permainan berdurasi dua kali empat puluh lima menit itu. Permainan yang diisi oleh sekumpulan lelaki bercelana pendek dan berkaus kaki panjang, yang berlarian kesana-kemari demi memperebutkan sebuah benda bernama bola lalu menendangnya sekuat tenaga setelah mereka mendapatkannya. Kalau mau dipikir-pikir, permainan bola itu memang absurd kelihatannya. Tapi, apapun yang orang katakan, saya tetap mencintainya.

Bertahun-tahun, saya mencoba untuk terlibat dalam sebuah pertandingan sepakbola, meski itu pada level amatir yang paling amatir. Dalam pertandingan antar kelas, saya turut berpartisipasi. Tapi saya memang bukan pemain yang ngotot. Jadi ritme dari sebuah kompetisi yang sifatnya fisik tidak terlalu menarik minat saya.

Maka demikianlah, pertandingan sepakbola, bagi saya hanyalah bagian dari ritual bersenang-senang demi mendapatkan sedikit keringat, sedikit saling ejek, dan menangguk secuil kebanggaan semu karena berhasil mengalahkan teman nongkrong dan teman minum kopi.

21122022_10209498244759708_402743333_n

Gagal menikmati sepakbola dengan cara memainkannya, saya kemudian beralih menikmati sepakbola lewat cara yang lain: menontonnya. Tapi, lagi-lagi, saya gagal. Karena saya bukan tukang begadang kualitas prima di mana saya lebih memilih menonton siaran tunda saat kondisi tubuh sedang prima ketimbang memaksakan mata terbuka saat malam sudah beranjak tua.

Kegagalan dalam dua perkara itu, membuat saya mengalihkan kecintaan saya terhadap sepakbola melalu cara lain: membacanya. Saya suka membaca semua hal – dan belakangan tema-tema tertentu – tentang sepakbola. Terlebih buku.

Dulu, ketika kecintaan saya terhadap literasi sepakbola mulai tumbuh, saya lebih suka membaca berita-berita yang tidak melulu soal taktik, strategi, dan ulasan pertandingan, melainkan tulisan-tulisan tentang segala hal yang terjadi di luar lapangan. Entah itu tentang kisah di balik sebuah saga transfer lengkap dengan dramatisasinya, cerita dari tribun penonton, politisasi sepakbola dan hubungannya dengan perkembangan ekonomi, sampai dengan aspek-aspek non teknis yang lahir dari rivalitas yang terjadi di atas lapangan hijau, yang entah bagaimana caranya bisa memengaruhi hasil akhir di papan skor dan mengubah jalannya sejarah.

21100311_10209498244839710_1935270739_n

Maka sejak dua tahun belakangan ini, sedikit demi sedikit, saya mengumpulkan buku-buku tentang sepakbola, baik yang masih baru maupun yang sudah lama. Baik dari penulis lokal maupun penulis internasional.

21122202_10209498244959713_837001585_nSalah satu buku tentang sepakbola yang paling berkesan buat saya adalah Catatan Ringan. Sebuah kumpulan tulisan di majalah Bola yang ditulis oleh Sumohadi Marsis. Sebuah nama yang melegenda di dunia jurnalisme olahraga Indonesia. Saya menemukan buku ini di bawah tumpukan buku di sebuah toko buku bekas di Pasar Modern BSD.

Di toko itu juga saya menemukan buku lainnya tentang sepakbola lainnya seperti Football Fables-nya Iain Macintosh dan Football Against The Enemy-nya Simon Kuper.

Selain itu, saya juga berhasil menemukan buku karangan M Kusnaeni, atau yang akrab disapa Bung Kus, berjudul Sepakbola Italia.Buku itu saya temukan secara tidak sengaja saat membantu seorang tukang loak membongkar muatan berisi barang-barang bekas dari gerobaknya. Saya beruntung bisa mendapatkan buku bagus itu dengan banderol yang nyaris tidak ada harganya.

21100519_10209498244999714_1506821087_nDan karena saya cukup rutin mengunjungi toko-toko buku bekas nyaris setiap pekan, maka ada saja buku-buku menarik yang saya temukan, termasuk buku tentang sepakbola. Selain buku-buku yang sudah saya sebutkan di atas, saya juga pernah menemukan sebuah buku tentang sepakbola yang ditulis Sindhunata berjudul Bola Di Balik Bulan di sudut yang nyaris tak terlihat pada sebuah toko buku bekas di Tangerang. Saya juga pernah menemukan buku biografi mendiang Ronny Pattinasarani, biografi Lionel Messi, biografi Alex Ferguson, biografi Robin van Persie, Ketika Jemariku Menari karangan Bambang Pamungkas, serta The Perfect 10-nya Richard Williams.

Di samping mengubek-ubek tumpukan buku bekas dan mencari harta karun berupa buku tentang sepakbola, saya juga membeli buku-buku itu di dunia maya, baik itu dari para penjual buku bekas yang banyak berteman dengan saya di Facebook, atau dari toko daring. Dari mereka, saya membeli buku-buku semisal Simulakra Sepakbola-nya Zen RS, Sepakbola The Indonesian Ways-nya Antony Sutton, Pemuja Sepakbola-nya Iswandi Syahputra, Sepakbola Seribu Tafsir-nya Edward S. Kennedy, dan Sepakbola 2.0-nya Fandom.

Saya juga berburu buku-buku sejenis dari Ebay dan beberapa toko buku daring luar negeri. Dari situ, saya berhasil mendapatkan Pitch Fever-nya Nick Hornby, The Ball Is Round-nya David Goldblatt, Inverting The Pyramid-nya Jonathan Wilson, termasuk biografi Matt Le Tissier yang sudah saya beli sejak bulan Juli dan belum juga saya terima sampai detik ini.

Lalu, dari semua buku-buku itu, buku apa yang jadi favorit saya?

21148313_10209498244719707_672282654_nSebenarnya, semua buku itu adalah favorit saya. Tapi kalau boleh memilih, maka favorit saya ada lima: Ketika Jemariku Menari karangan Bambang Pamungkas, Sepakbola The Indonesian Way of Life karangan Antony Sutton, A Season With Verona karangan Tim Parks, Sepakbola Italia karangan M Kusnaeni, dan Catatan Ringan karangan Sumohadi Marsis.

Ketika Jemariku Menari dan Sepakbola The Indonesian Way of Life saya masukkan ke dalam daftar favorit karena dua buku itu menjelaskan dengan sangat gamblang tentang dunia sepakbola Indonesia yang, dalam redaksi saya, menggemaskan tapi menyebalkan. Sementara A Season With Verona adalah satu dari sedikit buku yang membahas tentang klub semenjana di Italia yang ditulis oleh orang Barat dengan bahasa Inggris pula. Dan Catatan Ringan, sebagaimana namanya, berhasil menghibur saya dengan tulisan-tulisan pendek yang ringan namun tetap bernas dan berisi. Sedangkan Sepakbola Italia, saya kagum dengan kedalaman data yang berhasil disajikan oleh Bung Kus, demikian penulisnya biasa disapa, di era ketika Wikipedia masih sekedar konsep di Lauhul Mahfuzh.

Lewat buku-buku itu, saya berusaha untuk menyelami sepakbola dalam skala yang lebih luas. Bahwa pertandingan yang tersaji di layar kaca itu tidak serta merta ditentukan oleh faktor-faktor teknis yang ada di atas lapangan, melainkan juga diwarnai oleh faktor-faktor lain, nonteknis, yang jumlahnya tidak sedikit, dari luar lapangan.

Saya sangat mencintai sepakbola, meski saya memainkannya dengan buruk, dan tidak punya daya tahan prima untuk menontonnya secara tuntas di layar kaca. Maka, di sela-sela usaha saya agar bisa memainkan dan menontonnya dengan layak, saya mencoba untuk menikmatinya dari sudut yang lain: menjadi fans layar baca.



Wahid Nugroho / Tifosi Parma garis miring, fans Southampton garis-garis, warga Meruya Selatan