Hengki Ardiles: Sepak Bola, Perjuangan dan Ibadah

hengki header


1Kenangan bagi saya adalah masa lalu yang membentuk diri saya sekarang. Saya lahir dan besar di kampung halaman saya di Padang Panjang, 3 jam perjalanan dari kota.

Seperti anak desa umunya, ketika kecil dulu saya juga pernah merasakan nikmatnya bermain sepak bola di hamparan sawah hijau, tanpa alas kaki, pakai bola plastik dengan kawan-kawan. Riang gembira, begitu bebas tanpa beban, tanpa aturan, pernah juga memecahkan kaca rumah tetangga dan saya benar-benar merasakan betapa indah saat-saat yang tidak akan pernah terulang itu. Saya masih ingat betul ketika ayah saya membelikan sepatu pertama saya untuk bermain bola. Jangan membayangkan sepatu bermerek yang dipakai para pemain terkenal. Kala itu hanyalah sepatu dengan pull karet yang biasa dipakai oleh orang-orang untuk pergi ke ladang. Itu saja sudah sangat mewah bagi saya. Saya mensyukuri momen-momen itu.

Saat itu saya tidak berpikir akan menjadi seperti sekarang, putra daerah yang berhasil menembus tim utama bahkan kini mengenakan ban kapten tim kebanggaan Ranah Minang, Semen Padang. Mengangkat piala ketika juara, berkeliling Nusantara untuk berkompetisi melawan tim-tim terbaik Indonesia. Bagaimana tidak, menembus tim junior saja sudah sangat berat, apalagi masuk senior.

2Tahun 2003…

Merupakan sebuah titik balik perjalanan karir dan hidup saya. Tidak banyak yang tahu, bahwa saat itu saya ialah satu diantara tiga pemain junior yang tidak terpanggil masuk ke tim senior.

Merasa terpukul dan gagal itu pasti. Namun saya punya mimpi…

Saya berkata pada diri saya sendiri bahwa suatu saat saya akan mengenakan kostum Kabau Sirah. Apapun yang harus saya lakukan akan saya lakukan! Saya tidak ingin menyerah dan mulai mencoba mengikuti latihan di senior dengan status seleksi. Apabila para pemain tim senior berlatih dengan 100% kemampuannya, maka saya sadar bahwa saya harus berlatih dengan 150% atau lebih kemampuan saya. Saya harus lebih rajin, lebih kuat, lebih disiplin dari pemain terhebat di tim. Dan apa yang sanggup saya raih hingga hari ini saya yakini sebagai hasil daripada apa yang saya lakukan di masa lalu, sebuah kenangan, perjalanan pahit-manis, lebih-kurangnya, inilah saya sekarang.

Hengky_Ardiles
Sumber: Wikipedia

Rasanya baru beberapa Tahun yang lalu saya masih bersama dengan tim junior, tiba-tiba kini telah memikul tanggung jawab sebagai kapten Semen Padang. Mungkin karena selama ini saya dengan sepenuh hati mencintai apa yang saya kerjakan: sepak bola. “Nan awak karajoan niaiknya ibadah”. Yang saya kerjakan saya niatkan sebagai sebuah ibadah. Dan dalam beribadah, saya tidak pernah main-main, selalu sungguh-sungguh dan melakukannya dengan ikhlas dan kecintaan.

Musim kompetisi resmi akhirnya bergulir dan saya merasa bersemangat, meskipun kini saya juga harus mulai memikirkan ketika nanti sudah berhenti sebagai pemain. Saya ingin mengabdikan diri pada kampung halaman saya dan untuk sepak bola Indonesia. Menemukan dan mengembangkan potensi-potensi baru putra daerah. Menularkan ilmu, mengajari, melatih, apapun itu untuk menjembatani bibit-bibit muda yang barangkali punya pengalaman seperti saya dulu.

“Nan awak karajoan niaiknya ibadah…”

Master1
Sumber: Kompas

Selalu saya tekankan kepada rekan saya di tim yang usianya masih lebih muda, jangan cepat berpuas diri, anggaplah apa yang telah dicapai kini hanya merupakan langkah awal menuju sesuatu yang lebih besar.

hengki
Sumber: Semen Padang FC

Berapa kali saya telah meyaksikan banyak pemain muda yang dengan susah payah menembus tim senior, namun setelah terpilih, dengan segera pula menghilang dari persaingan dan mengakhiri karir lebih cepat. Hal itu sangat memprihatinkan bagi saya sebagai pemain.

Terima kelemahan dan kekalahan dengan jiwa besar, dan rayakan kemenangan dengan rendah hati, semua itu rejeki yang harus diterima. Belajar itu ketika kita susah, ketika jatuh. Dengan kerja keras, semangat pantang menyerah, dari keterpurukan kita akan bangkit dan menuai hasil yang kita harapkan pada akhirnya.

Anggaplah semuanya seperti Ibadah, lakukan dengan hati dan kesungguhan.*


ttd

 

 

 

 

Video | Memorabola TV