Sepak Bola Panggung Gembira, Bukan ‘Penggembira’

Soccer at 28th South East Asian Games in SingaporeMengapa prestasi sepak bola Indonesia begitu seret? Bahkan di kelas ASEAN saja Indonesia yang di awal selalu digadang-gadang oleh media sedang memiliki generasi emas, namun tetap setiap kompetisi hampir selalu berakhir dengan parau. Kami memiliki tiga himpunan catatan singkat ‘musibah’ sepak bola Tanah Air kita.

-bola.jpg-201412210939061

Pertama. Mafia sepak bola yang memegang kendali. Menurut M. Isnur, Kepala Bidang Penanganan Kasus Lembaga Bantuan Hukum Jakarta seperti dilansir Tempo, praktek sogok-menyogok skor terjadi sejak 2000. “Ternyata sepak bola kita parah diatur mafia. Bahkan, sebelum liga dijalankan, sudah ada skenarionya,” kata Isnur. Beberapa anggota mafia, kata Isnur, merupakan mantan pelatih dan pemain Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. “Bukan langsung orang PSSI, tapi berkaitan dengan PSSI.” ujarnya. Lalu yakinkah anda secara elementer sepak bola dari lini terbawah juga tidak diasupi kepentingan? Misal paling sederhana siapa saja pemain yang masuk tim utama sebuah klub di Kota tertentu. Mungkin saja mereka adalah pemain-pemain ‘titipan’ yang sudah menyetor sejumlah mahar untuk bisa masuk. Berlanjut ke level lebih atas, Timnas. Apa anda juga bisa yakin PSSI maupun organisasi apapun di sepak bola Indonesia bersih dari praktek suap dan titip-menitip skor dan pemain?!

indahkurnia-1Kedua. Sepak bola Indonesia adalah wadah mengumpulkan basis dukungan program kampanye. Berapa banyak kita melihat para calon legislatif atau para pejabat partai berlomba-lomba mengumpulkan dukungan masyarakat melalui instrumen sepak bola. Sepak bola yang dianggap sebagai milik masyarakat dimanfaatkan betul untuk kepentingan politik. Suara para supporter coba untuk ‘dibeli’ para pelaku kepentingan politik. Gelontoran dana dijadikan iming-iming. Inilah sumber pasang-surut klub. Lalu apabila habis manis sepah dibuang, bagaimana nasib sebuah klub yang ditinggalkan sang sugar daddy/mommy-nya tersebut?!

Ketiga. Berkaitan dengan poin kedua, klub sepak bola rawan menjadi pusaran pencucian uang para koruptor. Lalu darimana dana operasional sebuah klub sepakbola yang dikenal memiliki argo yang besar tersebut didapat? Diberitakan oleh Jawa Pos. KPK menangkap seorang pejabat publik, Iman Ariyadi Sabtu (23/9). Iman ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap rekomendasi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) pembangunan Transmart di kawasan Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC). Dalam perkara itu, KPK mengamankan uang tunai Rp 1,152 miliar. Uang tersebut dibuat seolah-olah diberikan untuk Cilegon United. Klub sepak bola yang kini berlaga di babak 16 besar Liga 2 itu merupakan binaan Iman. KIEC menjadi salah satu sponsor Cilegon United yang mendanai kebutuhan operasional tim. Ini hanya salah satu contoh tabir yang terkuak. Dimana berdasar data SaveOurSoccer (SOS), ada 48 pejabat publik yang menjadi petinggi di klub sepak bola. Ada yang menjadi ketua umum, pembina, direktur, maupun jabatan lain. Tentu potensi pencucian uang berupa dana hibah ke klub sepakbola sangat tinggi di dalamnya.

650315_720Kesimpulannya, orientasi sepak bola di Indonesia ialah uang dan kekuasaan. Bayangkan olahraga yang seharusnya menjadi garda terdepan sportifitas dan pendidikan mental, telah menjadi sarang penyamun yang penuh sesak. Lalu naif-kah kita mengharap prestasi dari sebuah bidang olahraga yang dikuasai terlalu banyak kepentingan serakah?! Selama belum bersih dan enggan berbenah, niscaya sepak bola Indonesia hanya akan menjadi ‘penggembira’ yang prestasinya tidak seramai komentator sepak bolanya. (bjw)