Minyak Rambut dan Industrialisasi Sepak Bola

pcfqsqn1fvwbztzxhcmhAkhir 90-an barangkali bisa dikatakan sebagai dimulainya babak baru wajah sepak bola. Dipantik oleh transformasi Liga Inggris di awal dekade itu dan melahirkan Premiere League. Hooliganisme yang mulai dibatasi, yang menciptakan janji-janji kondusifitaspun dimulai. Dengan berkurangnya anarkisme dalam sepak bola, akan berbanding lurus dengan minat investor untuk melakukan penetrasi bisnis ke dalamnya.

Mengapa? Tentu karena market yang diciptakan juga semakin luas. Keluarga, wanita, bahkan anak-anak sudah berani masuk stadion karena garansi rasa aman. Apa yang diusahakan oleh sepak bola Indonesia kini, telah dilakukan sepak bola Inggris hampir tiga dekade yang lalu.

The-Class-Of-92-Reviewed.jpgMaka sejak lahirnya Premiere League di 1992, demikian pula era industrialisasi sepak bola potong pita. Lahirnya persekutuan pemain Britania Raya di Manchester United atau yang akrab disebut Class of 92 barangkali seperti sebuah statement tegas bahwa Inggris akan menjadi barometer modernisasi sepak bola Dunia. Tuahnya terjadi di musim 1998/99 ketika Setan Merah berhasil menjadi juara UEFA Champions League pada musim itu dengan merobohkan macan-macan Eropa 90an. Juventus yang menjadi finalis tiga kali beruntun di musim-musim sebelumnya digasak secara memalukan di Delle Alpi saat semifinal, dan lebih tragis Bayern Munchen yang mewakili Jerman dengan kemapanan ekonomi Eropanya dicabik-cabik dan di-PHP secara kejam di injury time partai final kala itu.

David-Beckham-Adidas-Predator.jpgDi luar lapangan, impact-nya tak kalah dahsyat. 1998 Melahirkan begitu banyak produk everlasting untuk sepak bola. Sepatu terbaik yang pernah diciptakan untuk permainan ini lahir: Predator Accelerator. Piala Dunia Prancis yang luar biasa membahana dengan salah satu lagu paling iconic yang pernah diciptakan dalam sejarah olahraga juga lahir dan dibawakan oleh Ricky Martin berjudul La Copa de la Vida. Sejalan dengan eksploitasi dan eksplorasi habis-habisan sepak bola Inggris dan Dunia secara umum, muncul satu nama sebagai komoditi paket lengkap terakbar baik di dalam maupun luar lapangan sepak bola: David Beckham!

1200px-Brylcreem_3718Saya masih terngiang betul ketika di sekolah dasar, bagaimana saya dan ternyata juga banyak kawan saya pada saat itu meniru gaya memakai minyak rambut Brylcreem a la Beckham. Dan nostalgia itu juga ternyata dialami kawan-kawan komunitas yang seangkatan dengan saya hingga kini. Anak 90an yang tau bola, pasti ingat wewangian khas minyak rambut dengan kemasan warna merah itu. Juga pasti pernah memakainya sebelum main bola, sampai berkeringat dan minyaknya luntur di jidat. Niscaya hampir pasti bergaya rambut trap belah tengah karena hanya anak kutu buku yang bergaya rambut belah samping pada era itu. Semua demi agar mirip dengan David Beckham, idola semua anak bola, bahkan untuk Juventini seperti saya. Itu sungguh terjadi.

david-beckham-brylcreem-460

Salah satu gejala luar lapangan semacam inilah yang menegaskan dimulainya era industrialisasi dalam sepak bola. Ketika para penggemar bola tidak hanya menikmati apa yang terjadi di dalam lapangan, melainkan konsumerisme di luarnya. Dan Inggris, tidak dapat dipungkiri selalu menjadi yang terdepan dalam hal industrialisasi. Bagaimana tidak, Negara inilah asal muasal revolusi industri itu sendiri. Dan sepak bola, telah disadari akan menjadi komoditi terbesar di dunia industri. David Beckham, rambut belah tengah, dan minyak rambut fenomenal itu. Era sepak bola 90an mana yang engkau dustakan?!

Punya pengalaman serupa? Bagikan artikel ini dan subscribe Memorabola. Selamat bernostalgia.


Barry Junius Widjaja / Blogger Memorabilia Olahraga