Sepak Bola Bukan Arena Setor Nyawa!

2Pernah kami menulis mengenai kekerasan yang masih menyelimuti waja sepak bola tanah air kita. Kami menuangkannya dalam artikel terdahulu berjudul Harga Murah Sebuah Nyawa, Itu Bukan Sepak Bola! dengan harapan besar rentetan peristiwa tersebut akan menjadi yang terakhir dan para korban akan senantiasa menjadi duta perubahan.

Ternyata kedewasaan seluruh elemen sepak bola yang naif kami harapkan itu nampaknya masih jauh panggang dari api. Masih jauh dari yang kami dan kita semua harapkan.

Lagi, April 2018 ini seperti menjadi catatan hitam bagi seluruh insan sepak bola, maupun kemanusiaan di Indonesia. Micko Pratama, seorang Bonek yang nyaris genap berusia 17 Tahun harus meregang nyawa dihajar massa setelah laga PS Tira kontra Persebaya, 13 April lalu. Pun demikian pertandingan antara Arema FC melawan Persib di Kanjuruhan, 15 April 2018 menyisakan terlalu banyak pekerjaan rumah bagi siapapun yang terlibat. Nyanyian rasis yang masih berkumandang, penonton rusuh dan menginvasi lapangan, flare yang masih tampak, beberapa infrastruktur yang menjadi korban vandalisme, hingga berujung ke sejumlah penganiayaan fisik bagi pemain dan official tim lawan.

20180416arema-fc-terancam-denda-miliaran-rupiah-gara-gara-aremania-rusuh_20180416_170523Adam-Arema-FC-vs-Persib-Aremania-Jancok-3aremania-741x430

Setidaknya dua orang pemuda harus ‘setor nyawa’ dari rentetan kekerasan pasca pertandingan tersebut. Dhimas Duha Romli (16) dan Imam Shokib menjadi dua diantara sekian deretan nama hasil keprimitifan para oknum pelaku kekerasan.

Apakah ini karakter sepak bola Bangsa ini? Ketika dari elemen terbawah saat pertandingan gala desa dan antar kampungpun, tawuran seakan dianggap wajar dan dilegalkan. Kalah di dalam lapangan, bukan berarti harus kalah di ‘pinggir lapangan’.

Apakah karakter semacam ini yang kita inginkan untuk diterjemahkan hingga ke ranah profesional?

Peyek, seorang Bonek sejak era Perserikatan, memberikan pandangan melalui kanal emosijiwaku.com. Ia menganggap salah satu persoalan tradisional terjadinya kekerasan semacam ini ialah budaya estafet.

Estafet sebetulnya adalah istilah baru yang populer di Bonek, yang menunjukkan betapa luar biasanya Bonek mendukung Persebaya di manapun berlaga dengan menumpang truk, mobil bak terbuka, kereta api, dll. Dimana silih berganti naik turun truk hingga sampai ke tempat tujuan

bonek-di-pemalang_20170112_142353
Budaya estafet Bonek yang sering berujung maut. Sumber foto: Tribun News

Selain menjabarkan sejarahnya dan mengaitkannya dengan berbagai kejadian kekerasan yang disebabkan oleh budaya estafet ini, Peyek juga menawarkan solusi konkritnya untuk menghentikan salah satu akar masalah dari rangkaian benang kusut ini di artikel Berbesar Hatilah, Hentikan Kebiasaan Estafet! Ini Solusi Konkretnya!

Dimanapun kita, bendera apapun yang kita bela, kekerasan tidak akan memiliki tempat dalam sepak bola. Moral kami beserta seluruh keluarga yang telah ditinggalkan. Hentikan kekerasan dalam sepak bola, mulai sekarang dan selamanya!*