Ternyata Del Piero Memang Manusia

Medan (17/5/2018). Baru setelah berselang 3 Bulan saya merasa memiliki pikiran yang jernih untuk membagikan pengalaman saya bertemu salah seorang idola saya dan banyak fans sepak bola lainnya di dunia, terutama Juventini. Selain itu, pada dasarnya karena berbagai pertimbangan, saya dan kawan-kawan sepakat untuk merahasiakan sementara kegiatan di sana.

5
Well, tentu saja saya tidak berada di dalam foto, karena saya yang memegang kamera

Del Piero, sudah selayaknya ‘Second God’ bagi penggemar Juventus. 19 Tahun pengabdiannya di klub asal Turin tersebut begitu membekas di benak fans Calcio era 90an hingga kids jaman now.

Bersama beberapa rekan-rekan dari Maglia Bianconeri Indonesia dan diprakarsai oleh bang Ponco (bisa ditemukan di akun twitter @poncotempo), mimpi itu akhirnya terealisasi (lagi). Kami menyelenggarakan acara terselubung untuk secara rahasia berjumpa dengan Del Piero. Perlu saya tegaskan bahwa acara ini adalah tidak resmi dan terpisah dari serangkaian kegiatan yang menjadi alasan utama Del Piero datang ke Medan.

Untuk kali kedua saya memiliki kesempatan berjumpa dengan Alessandro Del Piero. Perjumpaan pertama terjadi di Calcio Legend, Jakarta, 2016 lalu. Di sebuah acara meet n greet yang begitu terburu-buru, hanya sempat mendapat 2 tanda tangan di jersey koleksi saya, dan 2 foto selfie yang nyaris saja menjadi penyesalan terbesar seumur hidup saya. Dua kali percobaan foto, dua kali itu pula hasilnya blur parah!

Akhirnya, di Medan saya mendapat penebusan…

2Ale -sapaan akrab Del Piero- yang diundang oleh salah satu pasalon dalam rangkaian kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatra Utara tersebut hadir dengan disambut pengalungan kain Ulos di bandara. Melihatnya di media sosial saya hanya berpikir “okay, it’s comin….”. Karena kami telah menantinya di hotel tempatnya akan menginap, dimana apabila semua berjalan sesuai rencana, Ale akan menghampiri kamar kami satu per satu. Saat itu kami sebanyak 15 orang, terbagi menjadi 3 group di 3 kamar. Kami berkelakar dengan menamai event ini: Turun Kamar, yang merupakan pelesetan dari campaign Turun Turin yang digagas oleh bang Ponco. 

Dari semula jadwal pagi yang direncanakan, kami dibuat dag dig dug dengan molornya rangkaian acara dan kami harus menunggu keterlambatan sekitar 4 jam.

Tapi semuanya terbayar ketika Ale benar-benar menghampiri kamar-kamar kami. Dan saya berada di group terakhir yang dihampiri. Bayangkan bagaimana rasanya dihampiri idola anda, bukan sebaliknya.

Di sana, saya benar-benar melihat Alessandro Del Piero sebagai sosok manusia. Bukan lagi sebagai seorang ‘Dewa’ yang tak tersentuh. Ia terlihat sayu dan lelah karena perjalanan. Raut wajahnya bete karena bagasinya tertinggal di Singapore dan mengalami keterlambatan datang, menolak beberapa kali percobaan tanda tangan di jersey-jersey koleksi kami ketika berpapasan, dan kami juga mendengar beberapa insiden dengan pihak panitia penyelenggara acara (yang resmi) yang membuatnya naik darah. Semua lengkap dengan emosi yang manusiawi.

1

Saya belajar menerima, bahwa sosok yang seakan sempurna dan tanpa cacat di mata saya itupun ternyata juga manusia yang punya kelemahan. Selama 3 hari penuh saya secara kebetulan menginap di kamar yang tepat bersebrangan persis dengan kamar Ale. Bahkan saya begitu mudah dan seringnya melihatnya berseliweran keluar masuk kamar dari lobang intip pintu kamar saya. Rasanya sungguh surealis!

Setelah peristiwa Medan, sebut saja begitu, telah merubah total cara pandang saya untuk menginterpretasikan Alessandro Del Piero. Kini semua lebih utuh. Dari tahap sekedar mengidolakan, menjadi sedikit lebih jauh ‘mengenal’.

Kembali pada memori ketika Ale memasuki kamar terakhir, beberapa diantara kami berkesempatan mengungkapkan uneg-uneg secara langsung di hadapannya. Dan saya memutuskan untuk bercerita ringan kepadanya tentang bagaimana proses saya bisa pada akhirnya berdiri di hadapannya. Sebuah kronologi.

Ketika itu menjelang siang 27/4/2018, hari di mana istri saya mengalami kontraksi hebat karena akan segera melahirkan putri kedua kami. Di hari itu pula saya mendapatkan informasi valid akan kemungkinan kami dari komunitas kolektor untuk mengadakan event Turun Kamar untuk bertemu Alessandro Del Piero secara terselubung.

30 atau 60 menit sebelum kelahiran (saya tidak ingat persis berapa lama, karena telah mengalami 2 excitement yang berbeda antara menanti kelahiran dan kemungkinan terjadinya acara Turun Kamar), saya menanyakan kepada istri saya: “Apakah kamu sedang kontraksi?”. Belum. Sedang reda jawabnya. Lalu saya mengeluarkan kalimat pamungkas yang tentu mengguncangkan jiwa dan raganya: “Ok, saya cuma mau menginformasikan, Del Piero akan datang ke Medan di bulan Mei, yang berarti saya harus berangkat ke sana apapun situasinya”. Istri saya terbelalak tanpa kata, seakan ingin mengatakan apakah tidak ada momen yang lebih gila untuk menginformasikan hal ini.

Singkat cerita, tak lama berselang setelahnya, lahirlah putri kedua kami…

Kira-kira peristiwa itu yang saya sampaikan kepada Ale saat itu. Dan ia tertawa dengan raut wajah yang masih sangat lelah. Ia mengucapkan “Wow…that’s a crazy story!”.

Apakah saya gila? Karena saya tahu persis, banyak fans yang akan jauh lebih rela melakukan hal yang lebih gila untuk bertemu idolanya. Yang mereka butuhkan hanyalah kesempatan dan sedikit keberuntungan. Tetap berusaha kawan!


Barry Junius Widjaja / Founder memorabola.com yang dapat dijumpai di akun Instagram @barryjunius