Hermeneutika dalam Memorabilia

The thinkerDalam pandangan hermeneutika, pada dasarnya semua objek itu netral, sebab objek adalah objek. Benda-benda sebagai objek tidak bermakna dalam dirinya sendiri. Subjeklah yang kemudian memberi makna kepada objek. Subjek dan objek adalah term-term yang korelatif atau saling menghubungkan diri satu sama lain.*

Demikianlah sepetik kutipan dari Dr. M. Syamsudin, S.H., M.H. dalam bukunya Konstruksi Baru – Budaya Hukum Hakim. Bersumber dari pandangan Edmund Husserl, sang Bapak fenomenologi dan hermeneutika dan beberapa tokoh lain, buku ini menggunakan instrumen-instrumen tersebut dalam kaitan pandangan Hukum dan moralitas di Indonesia. Menggali keadilan dengan pandangan-pandangan baku mengenainya.

Lalu adakah kaitannya teori tersebut dengan memorabilia? Tentu saja. Hermeneutika dari kata kerja hermeneuo memiliki 3 arti. Pertama, mengungkapkan pemikiran melalui kata-kata. Kedua, menerjemahkan. Dan ketiga, berarti bertindak sebagai penafsir.

Nah memorabilia sendiri, dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sesuatu atau peristiwa yang patut dikenang. Jadi artinya memorabilia sebagai objek bisa meliputi kebendaan maupun peristiwa (non-benda). Lalu apakah benda-benda ataupun peristiwa sebagai memorabilia tersebut benar secara hakikat bersifat netral? Dan bagaimanakah sebuah memorabilia bisa melampaui netralitas tersebut?

Kita berangkat dengan sebuah contoh sederhana. Sebuah piala, Piala Dunia misalnya. Sebuah trofi yang berbentuk seseorang yang mengakat bola dunia dengan dilapisi emas 18 karat, dengan tinggi 36 cm. Memiliki dua cincin berhiaskan perunggu didasarnya serta memiliki berat total 4,950 gram. Didesain oleh mendiang Silvio Gazzaniga. Mengapa seluruh Tim Nasional sepakbola di Dunia mendambakannya? Padahal secara intrinsik, nilai trofi ini dapat dihitung sesuai dengan nilai material pembentuknya. Digramasi berdasar logam mulia yang dikandungnya.

Namun mengapa jangankan mengangkat trofi tersebut, berpartisipasi untuk memperebutkannya saja sudah merupakan sebuah kebanggaan?!

cup3
Sumber foto: FIFA

Mengapa juga seluruh pemain yang berpartisipasi rela berdarah-darah untuk mengangkat benda tersebut?! Dan lalu kenapa juga seluruh anggota tim pemenangnya akan begitu tersentuh, terharu, tak jarang menangis, menciumi, memeluk, mengkultuskan, menyembah bongkahan emas tersebut?!

Anda juga mungkin ingat bagaimana para pemain Tim Nasional Korea Utara yang menangis tersedu-sedu ketika lagu kebangsaan mereka berkumandang di pagelaran Tahun 2010?!

Kembali ke pandangan awal hermeneutika. Sebuah objek adalah netral sebelum subjek memaknainya. Karena subjek (kita) yang memaknai, sehingga sebuah objek (memorabilia) menjadi bermakna dan tidak lagi bersifat netral.

Tentu dalam hal ini, sebuah pemaknaan sangat bergantung kepada pengalaman subjek (kita) yang memaknai objek (memorabilia). Sebuah penilaian akan selalu bersifat aposteriori atau berdasar pengalaman. Pun demikian sifatnya seringkali turun-temurun. 

Mungkin para kolektor memorabilia secara umum sering mengalami protes dari orang rumah. Kolektor jersey misalkan, barangkali akan sering mendapati pasangannya atau orang tuanya protes apa untungnya mengoleksi baju bola dalam jumlah banyak dan harga yang tidak murah? Jawaban terbaik yang bisa saya tawarkan barangkali karena mereka (yang protes) memiliki pengalaman yang berbeda dengan para kolektor dalam menghayati sebuah memorabilia. Sehingga sudut pandang mereka bersifat apriori (tidak didasari pengalaman) dalam menanggapi hal ini. Yang sabar ya :’)


Barry Junius Widjaja / Founder memorabola.com yang dapat dijumpai di akun Instagram @barryjunius