Mission Impossible: Limp Bizkit

Saya cukup punya pengalaman dan jam terbang untuk hunting tanda tangan dan bertemu para pemain sepak bola. Nasional maupun Internasional, cv saya terbilang tidak buruk meskipun juga tidak bisa dibilang luar biasa. Tapi pengalaman Soundrenaline September 2018 yang lalu mengubah peta peruntungan saya selamanya. Misi saya saat itu adalah menjumpai personel Limp Bizkit. Band yang begitu saya idolakan sejak Tahun 2000 ketika masih menghuni bangku sekolah menengah. Maklum saja, karena di Tahun-Tahun itu adalah era keemasan genre musik Hip-Metal dan Nu-Metal. Sampai kinipun sebetulnya saya masih mengikuti perkembangan band ini.

Tapi masalahnya adalah: Saya sangat minim pengalaman untuk hunting musisi. Apakah pengamanannya akan lebih ketat, lalu bagaimana reaksi mereka terhadap fans, dan bagaimana sela waktu yang pas untuk menjumpai mereka, saya sungguh clueless.

medium

Jauh sebelum saya berada di Bali, saya telah mendapat info dari kawan saya salah seorang organizer event Soundrenaline 2018 yang juga rekan saya di Memorabola, Edbert William, mengenai lokasi menginap para personel Limp Bizkit.

7 September 2018. Hari pertama saya di Bali,  malamnya saya bergerak menuju sebuah resort mewah di Jimbaran tempat mereka menginap untuk sekedar survey, yang kebetulan saya juga telah mengetahui bahwa Limp Bizkit telah berada di resort tersebut sejak sehari sebelumnya. Setelahnya, satu hal yang saya pikirkan saat itu: Mission Impossible! Pengamanan resort ketat, lokasi yang luas, terlalu luas bahkan. Akses dari segala penjuru mata angin. Dikarenakan tempat mereka menginap berbeda dengan kebanyakan hotel yang telah saya datangi untuk hunting. Resort ini terdiri dari ratusan private villa! Dan anda tentu bisa berada di mana saja.

Tapi untunglah saya ditemani salah seorang kawan dari Surabaya, Ferdy,  yang pada saat genting punya pemikiran lebih jernih ketimbang saya. Syukurlah ia mencetuskan ide untuk hunting esok pagi harinya ketika para personel Limp Bizkit kemungkinan akan breakfast di resto, but still, nothing for sure. Dan kamipun sok-sokan menanyakan kepada salah seorang staff mengenai waktu sarapan bagi para tamu, menu apa saja yang disajikan dan sebagainya. Tentunya kami tidak mungkin untuk menginap  di sana, karena rate termurah untuk satu villa di sana berkisar 11-12 juta Rupiah per malam. Dan untuk menu breakfast saja seharga kurang lebih 600-650 ribu Rupiah per orang! Jadi OK, berbekal informasi yang telah kami rangkum, kami berencana kembali ke lokasi hunting esok paginya untuk menguji keberuntungan. Toh kebetulan penginapan kami hanya berjarak 600 meter dari sana.

Pagi hari 8 September 2018 kisaran pukul 06.30 WITA kali ini kami memiliki rencana brilian untuk masuk dari gate depan resort dengan berpura-pura menjadi tamu mancanegara. Ya paling tidak harapannya dikira berasal dari Thailand atau Philipine lah. Kami melenggang dengan sok-sokan pakai bahasa Inggris, dan sukses! Guard membuka gate dan menyapa kami dengan bahasa Inggris pula. “Good morning Sir, how are you?” sapa mereka. Dan kami dengan wajah songong dan sok kaya juga membalas sapaan mereka.

Ketika menuruni beberapa anak tangga untuk menuju ke lokasi resto, I’m totally stuck! Saya melihat sosok Fred Durst, sang vokalis sedang memegang piring bersiap untuk mengambil beberapa menu live cooking breakfast. Ia berbincang dengan beberapa staff hotel didampingi dengan beberapa crew Limp Bizkit. Saya secara harafiah gemetar dan panik sekaligus tidak percaya melihat salah seorang musisi yang paling saya idolakan berada hanya beberapa meter di seberang saya. Saya mencoba menenangkan diri dan kawan saya, Ferdy mengajak saya untuk berkelililing sejenak sambil menunggu Fred Durst selesai breakfast.

Saya masih tidak tenang dan memilih kembali untuk “mengintai” mereka, dan disaat itu pula, sosok yang paling saya nanti muncul. Wes Borland, sang gitaris juga turut bergabung. Logika saya menipis dan keberanian saya memuncak, saya tidak bisa menahan diri, saya katakan kepada kawan saya: “Janc*k, itu Wes Borland, saya harus ke sana sekarang!!”. Dan peruntungan saya dimulai dari momen gila itu! Saya tidak bisa berkata-kata dan ia (Wes Borland) menghampiri dengan ramah. Memberikan tanda tangannya di koleksi album Limp Bizkit dan Big Dumb Face saya, sedikit chit-chat dan berfoto. Bahkan ketika ia akan kembali ke kamarnya, ia sekali lagi menyapa kami. “See you guys” begitu pamitnya. Dan sekitar satu jam kami menunggu, akhirnya Fred Durst juga melewati posisi duduk kami dan bersedia kami cegat untuk berfoto dan meminta tanda tangan.

Satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah: menginterupsi para public figure ketika mereka sedang makan. Saya akan “mengganggu” mereka sebelum atau sesudahnya.

Kegembiraan ini rasanya ingin kami ulangi. Maka kami ulangi. Esoknya harinya lagi, 9 September 2018, kami kembali, dengan trick yang sama memasuki resort, dan beberapa staff juga sudah hafal dengan kami, malah mempersilahkan kami duduk dan menyuguhi kami welcome drink. Tujuan kami adalah mencari DJ Lethal yang tidak bisa kami temukan sehari sebelumnya (dan hingga akhirnya juga tidak sempat bertemu).

Namun yang membuat saya terkejut justru munculnya John Otto, sang drummer ternyata juga ikut dalam tur kali ini. Nampaknya ia baru saja menyusul rombongan band. Dan John juga dengan ramah menyapa kami, bahkan ada dua orang lagi kawan dari Jogja yang kami temui di sana untuk hunting. Mereka sempat dicegah salah seorang staff  dari resort saat akan meminta tanda tangan. Tapi ehhh…malah John Otto sendiri yang memanggil mereka dan memberi tanda tangan, kesempatan foto bersama, bahkan sempat mengucapkan “See you tonight“. Dan alhasil staff cantik itupun agak sedikit malu dengan inisiatifnya untuk melarang. They are rockstar, bukan diva yang menye-menye! Hahaha…

Malam harinya, di stage utama Soundrenaline, Garuda Wisnu Kencana. For the very first time of my life, akhirnya saya bisa melihat langsung konser Limp Bizkit. Hari yang sudah saya nanti setelah sukses di-PHP dua kali batal datang ke Indonesia. Memang Limp Bizkit tidak seenergik 18-20 Tahun lalu. Teriakan dan aksi panggung Fred Durst juga tidak segila jaman itu. Sam Rivers, sang bassist juga tidak bergabung karena alasan kesehatan dan harus digantikan additional player. Tapi tidak sedikitpun mengurangi euforia saya pribadi, dan banyak fans lainnya di floor malam itu. Singkat cerita di penghujung konser, dengan berbagai cara dan keberuntungan, saya berhasil mendapatkan “golden throw” pick gitar Wes Borland! Can you believe it?! Pick gitar bekas pakai Wes Borland! Dan resmi sudah, momen Bali itu menjadi the best ride of my life!


Barry Junius Widjaja / Founder memorabola.com yang dapat dijumpai di akun Instagram @barryjunius