Bejo Sugiyantoro: Merah Putih dan Darah Hijau (Part 1)

Bejo Header


Tujuh belas Tahun. Bagi saya, usia itu adalah usia yang sangat krusial. Di usia itulah saya mulai menjadi pemain sepak bola profesional. Menjadi pemain muda di klub sebesar Persebaya Surabaya adalah beban tanggung jawab yang luar biasa.

Ada momen-momen yang tidak akan bisa saya lupakan seumur hidup. Adalah ketika saya membawa Persebaya dua kali menjuarai Liga Indonesia 1996/97 dan 2004. Juga ketika saya pertama kali menjalani debut di Tim Nasional Indonesia pada 1997. Saya merasa memiliki semua prestasi yang saya cari dalam karir saya.

12816983_1019959844710094_1550686523_n
Tim Persebaya Surabaya yang menjuarai Liga Indonesia III 1996/97. Bejo Sugiantoro, berdiri, dua dari kiri

Namun ternyata memang selalu ada lika-liku dalam kehidupan…

2003 merupakan momen yang berat bagi karir saya. Ketika itu Persebaya terdegradasi dan saya berada dalam situasi sulit. Saya memutuskan pergi meninggalkan tim yang sudah menjadi rumah saya, tempat saya dibesarkan. Meninggalkan keluarga saya dan merantau ke Pekanbaru. Keputusan yang pada akhirnya selalu saya sesalkan. Saat itu pula ada insiden ketika saya memukul wasit, dan saya terkena skorsing  satu Tahun penuh, tanpa remisi!

Bermain untuk Tim Nasional Indonesia…

Siapa tidak bangga mengenakan jersey dengan lambang Garuda di dada?! Semua yang saya lakukan, setiap pemain, semua kerja keras, pasti bertujuan dan memiliki impian untuk membela Timnas. Termasuk saya. Ketika banyak pemain yang mendapat remisi karena kasus serupa, tidak dengan saya. Bahkan di ulang tahun PSSI sekalipun, tidak seharipun saya mendapatkan remisi atas vonis itu.

20171012041341-39

Tentu saya merasa dikhianati dan diperlakukan tidak adil, mengingat apa yang telah saya berikan kepada Tim Nasional Indonesia. Seluruh kemampuan dan kerja keras saya berikan selama hampir tujuh Tahun mengabdi. Itulah alasan kuat saya menolak panggilan dan menyatakan mundur dari Timnas Indonesia setelah vonis berakhir. Saya merasa hanya dibutuhkan tenaga saya, tapi tidak ada simpati ketika saya dihukum.

Di kemudian hari, saya mendapati bahwa ada sebuah campur tangan yang lebih besar dari hal ini. Ada seseorang, yang telah saya anggap seperti ayah saya sendiri yang sengaja memastikan skorsing saya berjalan tanpa remisi. Alasannya satu: agar saya tidak berkembang dan lekas keluar dari PSPS Pekanbaru dan kembali pulang ke kampung halaman saya, Surabaya. Kini saya menganggap hal tersebut barangkali merupakan wujud kasih sayang beliau terhadap saya. Ada hikmah dari peristiwa itu.

Dengan segala cobaan yang saya alami saat itu, akhirnya saya pulang untuk sebuah

Penebusan…

Saya menepati janji untuk menebus kesalahan saya meninggalkan Persebaya. Musim 2004 membuat saya seperti terlahir kembali. Momen pertandingan terakhir melawan Persija di Tambaksari, dibawah guyuran hujan yang sangat lebat, lapangan yang banjir, Bonek yang memadati dalam dan luar stadion, akan selalu saya kenang seumur hidup.

 

Saya menangis haru ketika berhasil membawa Persebaya juara, sebagai kapten di final menggantikan Mursyid Effendi yang tidak bermain. Ini adalah bentuk penebusan rasa bersalah saya kepadanya, kepada Persebaya, kepada seluruh supporter.

Hujan batu di negeri sendiri masih lebih enak dibanding hujan emas di negeri orang. (*)


Kisah inspiratif Bejo Sugiantoro akan dilanjutkan di part 2, segera di memorabola.com