Nostalgia Fans Jaman Bocah

Dahulu menonton bola itu menyenangkan. Di televisi, berdebar-debar, senang, sedih, semua tertumpah. Saya tidak pernah peduli ketika bek sayap jarang naik, kurang crossing, striker tidak menjaga bola dengan baik, pola 4-3-2-1 tidak berjalan dan harus digantikan dengan 3-4-1-2 di tengah pertandingan. Dahulu ketika bocah, mana paham saya mengenai remeh-temeh semacam itu.

Kini entah mengapa, menonton sebuah pertandingan tidak pernah semendebarkan dan semenyenangkan ketika saya masih sebelas atau dua belas Tahun. Layaknya trik sulap yang tidak lagi terlalu mencengangkan karena kita telah mengetahui metodenya, atau seperti nonton film yang berkurang ketegangannya karena kita sibuk mengamati angle dan cinematografinya. Itulah yang saya rasakan ketika menonton pertandingan sepak bola sekarang.

Kepala saya dipenuhi dengan hal-hal teknis. Bola terlalu banyak di kiri, kurang umpan diagonal, tidak ada pemutus serangan lawan, statistik penguasaan bola lemah, intersep pemain belakang minim, akurasi passing hanya 65%, skor settingan mafia dan seluruh carut-marut statistika itu.

Kini, terutama kini, saya merasa sepak bola mengandung terlalu banyak prasangka. Saya merasa agaknya dipermainkan dalam mencintai permainan ini. Dan saya menemukan diri saya terjebak di ranah konspirasi hanya untuk sekadar menonton dan menikmati. Saya lalu sering bertanya pada diri saya sendiri, apa sih esensi dari sepak bola? Apa harus sebegininya? Memangnya salah kalau saya hanya ingin menikmati menonton pertandingan tanpa harus tahu apa yang terjadi di balik layar? Ibaratnya saya ingin makan enak tanpa peduli siapa yang memasak.

Ngomong-ngomong tentang makanan dan juru masak, saya jadi teringat film animasi Ratatouille, produksi Pixar dan didistribusikan Walt Disney Pictures pada 2007. Ada satu scene ketika seorang kritikus makanan top, Anton Ego yang terkenal sangat sinis akhirnya begitu takjub terhadap sajian yang disantapnya. Sajian itu mengingatkan ia akan masakan ibunya ketika bocah, jauh dari hingar-bingar teknis cara memasak yang harus ini harus itu. Ketika ia hanya tahu dan peduli bahwa makanan itu enak tanpa memahami bagaimana detail dan tata cara memasaknya.

Pada akhirnya betapa terkejutnya dia, ketika mengetahui juru masak makanan itu adalah seekor tikus. Sebuah sajian apapun bisa jadi tidak akan terlalu terasa nikmat apabila kita pada akhirnya mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Contohnya seperti tikus yang memasak seperti pada film animasi Ratatouille atau konspirasi “tikus” yang mengendalikan sepak bola seperti yang sedang viral akhir-akhir ini. Sama saja bagi saya akan mengurangi kekhusyukan menikmati sebuah sajian.

Ada satu titik dimana saya merindukan nonton bola dengan kepolosan, dengan ekspektasi yang murni: untuk melihat tim idola saya menang. Serang cetak gol, menang dan bersuka cita. Atau meratapi kekalahan hingga berlarut-larut. Tapi kontaminasi sudah terlanjur jauh mengakar. Saya bisa apa selain berusaha menikmati dengan sisa-sisa fanatisme yang mulai tergerus logika dan berita.


Barry Junius Widjaja / Founder Memorabola yang bisa dijumpai di akun Instagram @barryjunius