Bejo Sugiyantoro: Merah Putih dan Darah Hijau (Part 2)

Sekali saya telah meninggalkan Persebaya ketika karam, dan saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya memilih bertahan di 2006 ketika Persebaya kembali degradasi karena aksi boikot tim. Dan saya bangga bisa membawa Persebaya kembali ke kasta tertinggi berstatus juara Divisi I kala itu.

Tujuh belas Tahun. Usia saya memulai karir profesional. Saat itu tahun 1994. Di usia itu pula, siapa yang pernah menyangka, di 2017, anak saya Rachmat Irianto (Rian), juga memiliki jalan hidup yang mirip dengan ayahnya. Memulai karir sebagai pemain muda untuk Persebaya Surabaya.

Saya memberinya nama Rachmat, karena memang Ia adalah sebuah rachmat dari Tuhan, dan semoga ia juga selalu dirachmati dalam hidupnya, dalam karirnya. Nama Irianto, tersemat padanya sebagai wujud mengenang dan menghormati sang legenda.

Eri Irianto, seorang pemimpin sejati di lapangan, sosok panutan.

Tentu saya sangat bangga, ada generasi berikutnya dari keluarga Bejo Sugiantoro yang meneruskan untuk menjadi bagian di tim kebanggaan, Persebaya. Saya tidak bisa berandai-anda dan menyama-nyamakan Rian dengan saya. Kami sering berdiskusi dan dia memang tidak ingin dikait-kaitkan. Saya tidak menyalahkan banyak orang yang melakukannya, menempatkan ia dalam bayang-bayang nama besar ayahnya, itu pasti terjadi. Tapi satu hal yang saya tekankan kepadanya, jalanilah profesimu dengan sungguh-sungguh, karena pada akhirnya seluruh prestasinya adalah tergantung dari dirinya sendiri.

“Saya memberinya nama Rachmat, karena memang Ia adalah sebuah rahmat dari Tuhan”

Apabila nanti ia akan melampaui prestasi ayahnya, tentu itu murni dari kemampuannya sendiri, dari hasil kerja kerasnya sendiri. Tugas saya adalah menanamkan karakter pada dirinya. Kedisiplinan selalu saya tekankan kepadanya. Mulai dari jam tidur, dan pola-pola lain di luar dan di dalam lapangan. Contoh kecil adalah memasukkan jersey, baik itu di latihan, maupun di pertandingan.

Bersyukur saya telah menjadi saksi ketika Rian pertama kalin menyandang ban kapten di 2 pertandingan Persebaya melawan PSIS Semarang, salah satunya ketika ia juga mencetak gol kemenangan lewat titik penalty di Homecoming Game 2017. Di hadapan 55.000 supporter yang memadati stadion. Momen yang begitu mengharukan bagi saya sekeluarga.

Saat itu Iwan Setiawan menjabat sebagai pelatih Persebaya, dan saya sampai heran dan berkata: “Saya salut kepada coach Iwan, yang berani mempercayakan ban kapten Persebaya kepada anak berusia 17 tahun”

Lebih bangga lagi, ketika Rian juga turut mengantarkan Persebaya menjadi juara Liga 2 musim 2017. Bagaimana saya ingat menggendongnya di Gelora 10 Nopember, ketika Persebaya jadi juara di 2004. Ia masih berumur 5 Tahun. Dan di 2017, giliran saya menyaksikannya mengangkat piala juara, yang juga untuk Persebaya.

Dan memang inilah rejeki, kini Persebaya mempercayai saya menangani dan menjadi bagian dari tim. Dimulai dari melatih U-19, menjadi caretaker Alvredo Vera, dan kini menjadi asisten pelatih di tim utama, dimana ada Rian di dalamnya. Inilah perjalanan baru saya. (*)


Kisah inspiratif Bejo Sugiantoro akan dilanjutkan di part 3 (habis), segera di memorabola.com