Bejo Sugiyantoro: Merah Putih dan Darah Hijau (Part 3)

Semasa kecil, saya sering menonton pertandingan sepak bola di stadion. Dan saya ingat betul ketika beranjak remaja, ada satu sosok yang sangat saya idolakan, Heri Kiswanto. Saya ingat caranya memotong bola, posisi saat harus mengambil bola, menghentikan lawan. Dulu saya bayar tiket masuk masih murah 3,000 Rupiah untuk nonton beliau bertanding dan mempelajari permainannya.

Tapi tidak dengan sliding tackle! Saya mempelajarinya dari Liga Jerman. Yang saat itu terkenal dengan sapuan-sapuan keras dan para liberonya. Mungkin dari situ timbul karakter keras dan ngeyel dalam permainan saya.

Dulu, menurut saya para striker lokal tidak sepolos sekarang. Striker lokal kini lebih sering ‘dijahati’ lawan daripada ‘menjahati’ lawan. Rochy (Putiray) misal, tidak akan membiarkan bola lepas 1 meter saja dari dia. Apabila tidak bisa lewat, dia akan menarik baju dan celanamu, menendang area selangkangan dan kakimui, segala cara akan dilakukan untuk merebut bola dan berduel.

Saya ingat ketika bertemu dengan Peri Sandria, dan saya masih berstatus pemain muda. Termasuk ketika pertandingan final 1997 melawan Bandung Raya. Beliau adalah striker top saat itu. Sebagai lawan senior dia sering mengancam saya ketika pertandingan. “Jangan macam-macam ya!” begitu dia sering teriak ke saya.

Peri, juga sering melakukan trik-trik yang memperdayai bek lawan. Sering ngetrik jatuh dan dapat foul. Tapi buktinya dia tidak pernah lewat ketika bertemu saya. Karena prinsip saya

Seribu kali dia mengancam, seribu satu saya menghajar!

Sebagai pemain muda saat itu, bondo saya hanya satu: minta maaf. Habis hajar, ya minta maaf. Hajar lagi, minta maaf lagi. Karena kalau saya mengikuti ancaman pemain lain, saya tidak akan bisa main.

Karakter ‘berani mati’ inilah yang saya tekankan ke anak asuhan saya. ‘Membunuh’ atau ‘dibunuh’. Ngosek, ngeyel kalau istilah Arek Suroboyo. Jangan biarkan lawanmu lewat, pertahankan meski sejengkal tanah.

Jujur meskipun awalnya saya sempat menolak ketika diminta oleh Azrul Ananda, presiden Persebaya Surabaya untuk jadi pelatih tim U-19. Saya heran, karena saya punya bekal yang buruk sebagai pelatih Persik Kediri sebelumnya. Saya gagal membawa Persik lolos playoff, bahkan sempat saya tinggal untuk mengambil lisensi kepelatihan.

Tapi jawaban Presiden Persebaya yang singkat akhirnya menggugah dan membuat saya tertantang. “Saya tahu siapa sampeyan, luar dan dalam, dan saya mempercayai sampeyan”. Dan kepercayaan itu sudah cukup bagi saya untuk menerima panggilan ini.

Dan tantangan terbesar hadir ketika saya menjadi caretaker Alvredo Vera yang memilih mundur di tengah kompetisi Liga 1. Tentu hal ini sangat berat tanggung jawabnya bagi saya. Harus masuk ketika kondisi tim sedang dalam titik nadir. Oleh karena itu saya sering guyon sendiri dengan menjuluki diri saya sebagai ‘Pelatih Jihad‘. Mundur tidak bisa, maju adalah kewajiban.

Tugas pertama saya adalah masuk ke ranah psikologis pemain. Mengayomi mereka. Bagaimana membuat mereka mau berjuang lagi lagi, bekerja keras, dan melakukan sesuatu lagi untuk Persebaya. Saya katakan kepada mereka, apabila kulitmu terkelupas satu centi saja dan berdarah, maka Bejo Sugiyantoro yang akan bertanggung jawab, meskipun saya harus mati di depan 55.000 orang.

Dok. Tirto

Saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya rela berkorban untuk mereka, untuk tim. Dan apabila mereka juga menunjukkan karakter kuat, ngeyel, ngosek, dan mau berkorban, maka apapun hasilnya, saya yakin Bonek akan tetap respect.

Saya tidak ingin meninggalkan pakem hebat dari coach Vera, saya hanya ingin melengkapinya. Karena ia mewariskan permainan dengan ball possession yang sangat baik. Tapi saya menambahkan filosofi saya kepada permainan Persebaya: Bermainlah untuk menang, bukan bermain untuk permainan. Percuma menguasai permainan, tapi tidak menang. Karena kemenangan yang akan dibanggakan.

Semua pemain, baik di tim senior, maupun regenerasi yang sudah bagus di U-13 hingga U-19  bangga menjadi bagian dari Persebaya. Bangga itu pasti! Tapi mental yang kuat untuk masuk ke stadion dengan tekanan dan ekspektasi yang begitu tinggi dari puluhan ribu supporter dan masyarakat Surabaya, itu hal yang berbeda.

Oleh karena itu saya ingin menjadikan diri sebagai sahabat, saudara, kakak bagi para pemain, untuk membimbing mereka melalui masa sulit.

Saya telah bepergian dan bermain di banyak tempat. Tapi kemanapun dan sejauh apapun saya pergi,

Darah Saya Tetap Hijau!


Bejo signed