Surat Hitam “Itu” (Part 1)

Kontributor: Edhie Ruseno Karwoto
Eks bagian perlengkapan Persebaya Surabaya
yang juga merupakan anak dari Bapak H. Karwoto Sumoprawiro, eks manajer dan penasihat tim Persebaya Surabaya.

Tragedi Mursyid Effendi Piala Tiger 1998 dari sisi Pengurus Persebaya kala itu, dan apakah akan terus dihukum hingga kini ? Setelah pemain Persebaya ex Timnas pulang dari Vietnam, kami pengurus hanya bisa bersikap seperti biasa atau normal kepada mantan pemain dan pelatih eks Timnas yang sudah bergabung kembali di Karanggayam. Kami sama sekali tidak menanyakan kejadian tersebut, karena bagaimanapun juga, kami sudah yakin, pasti ada cerita dibalik ini semua.

Para pemain pun ingin terlihat normal biasa tapi dari wajah mereka terlihat gusar, dan setiap habis latihan, maunya langsung pulang, tidak menyempatkan diri makan malam di mess seperti biasa. 
Kami sangat sadar, dan tahu mereka sedang dalam tekanan hebat dari masyarakat dan keluarga atas tragedi ini.

Hingga beberapa hari kemudian, Khairil “Pace” Anwar yang sudah tidak tahan lagi melihat rekan setimnya diperlakukan sewenang-wenang oleh semua orang, lalu menceritakan kronologisnya kepada Wakil Manajer H Karwoto Sumoprawiro.

Pak Karwoto kemudian memanggil Uston untuk konfirmasi, dan pastinya kepada korban utama Mursid untuk dimintai keterangan perihal kejadian tersebut.

Kemudian Pak Karwoto meminta Mursid Effendi menuliskan kronologisnya secara lengkap menurut Mursid sendiri. 
Setelah selesai, lalu Pak Karwoto mengajak Mursid ke Jakarta untuk menghadap Ketum PSSI Agum Gumelar.

Hanya mereka berdua yang berangkat ke Jakarta, dan besok paginya hari Senin habis subuh seingat saya, mereka sudah berada dipagar depan rumah pak Agum di Jln Panglima Polim Jakarta Selatan.
Tanpa melakukan janjian atau minta waktu ketemu, seperti umumnya orang jaman dulu bila ingin ketemu, ya itulah yang dilakukan, yaitu datang kerumah yg dituju diwaktu pagi hari sesudah Subuh.

Penjaga rumah, memberitahukan pak Agum bahwa ada tamu dari Surabaya, dan ingin bertemu. Mereka langsung dipersilahkan duduk dan diterima diruang tamu. Setelah berbasa basi sebentar, lalu Pak Karwoto menerangkan maksud kedatangan, dan meminta Mursid sendiri untuk menceritakan sendiri kronologis kejadiannya. Pak Agum mendengarkan dengan seksama, dan salinan tulisan tangan Mursid yang sudah saya ketik, diberikan kepada beliau, dan mereka berdua kembali ke Surabaya sore harinya.

Kami pengurus Persebaya dalam hal ini sebagai klub anggota PSSI, hanya dapat memberikan yang terbaik buat Tmnas dengan menyumbang pemain2 kami. Dan tanggung jawab pemain-pemain Persebaya selama di Timnas adalah tanggung jawab sepenuhnya pihak PSSI.

Tetapi ihwal perlakuan yang diterima Mursyid Efffendi, kami pengurus mendukung dia seratus persen dan selalu mengingatkan bahwa dia tidak sendiri, walaupun di luar sana banyak cemooh dan ungkapan sinis.

Bagi saya pribadi, Mursid adalah pemain numero UNO atau nomer SATU di Persebaya selama saya bertugas.
Berlatar belakang dari keluarga yang kecukupan, sangat setia kepada kawan, seingat saya kendaraan dia sering dipinjam oleh rekan setim untuk digunakan belajar setir mobil, supel dalam bercanda, dan bermain selalu sepenuh hati.

Sepulang dari Jakarta bertemu Pak Agum Gumelar, saya sempat ngobrol di telepon dengan dia, dan masih teringat dia berujar, “sapa sih mas yang ndak pingin masuk Timnas?. Apalagi umur saya sekarang untuk ukuran pemain sepakbola sedang di puncak jayanya (kelahiran 1972). Apa yang saya lakukan hanya untuk Merah Putih. Salah memang, tapi itu adalah keputusan bersama.”

Dan sayapun setuju, apa yang dia dilakukan memang salah, tapi mari coba ditelisik lebih jauh kejadian itu sendiri.
Cobalah berpikir sejenak, dan bayangkan kita sendiri sedang berumur 25 tahun, baru pertama kali masuk ke dalam Tim Nasional Sepakbola Indonesia dengan Garuda tersemat di dada, “dianjurkan” untuk mengalah dalam pertandingan, demi untuk menjadi Juara, disepakati oleh seluruh Tim; baik Manajer, Pelatih, pengurus tim lainnya, dan seluruh pemain. 
Apa coba yang terlintas di benak kita, dan apa yang akan kita lakukan bila kita di posisi Mursyid?

Dan yang lebih mengejutkan adalah, Dia melakukan tindakan yang mana seharusnya malah bukan dia yang melakukan, karena sang algojo/eksekutor yang sukarela hendak mengeksekusi terhalang pemain Thailand, dan gagal (Kuncoro – pemain arema).

Oleh karena waktu pada saat itu kritis, dan bola berada di kakinya, maka Mursid langsung melakukan eksekusi, dalam kondisi tertekan dimana sisa waktu yang minim (kurang dari 1 menit). Mursyid Effendi melakukan tindakan tidak terpuji. Tapi dengan kesadaran penuh bahwa dia adalah bagian dari Team yang bersepakat untuk melakukan hal tidak terpuji untuk menuju Final dalam merebut Juara. Apa yang terjadi sesudahnya, sungguh diluar dugaan anak-anak muda ini, dimana reaksi masyarakat Indonesia sudah bisa ditebak, sangat mengecam tindakan tersebut, dan sosok yang paling dituding adalah Mursid seorang diri. 
Saat itu, tidak ada sama sekali pertolongan, apalagi pembelaan dari pihak PSSI. Alhasil dia sendiri yang menanggung malu, melakukan tindakan tidak sportif dalam bertanding Internasional, padahal seluruh perangkat Timnas ketika itu baik Manajer, Pengurus, Pelatih dan semua pemain dan jajaran ofisial Tim termasuk pengurus teras PSSI mempunya dosa yang sama.

Mengenai hal ini saya tidak bisa menyalahi para pemain, saya sangat paham dan mengerti betul jalan berpikir mereka, apalagi mereka masih muda, dan sudah pasti di benak mereka adalah bila tidak melaksanakan tindakan ini, maka mereka berarti tidak tunduk atau tidak patuh, dan konsekuensinya tidak akan dipanggil kembali ke Timnas, dan kubur dalam-dalam impian sebagai sebagai pemain bola untuk dapat mengenakan baju Timnas selama-lamanya.

Masih ingat mas-mas dan om-om sekalian, berita tentang kasus narkoba pemain timnas setelah tragedi ini? 
Nah ini ada runutannya menurut saya, dan memang Mursid mengalami depresi hebat atas kejadian ini, sehingga berteman dan berinteraksi dengan beberapa teman yang salah sehingga dia masuk ke lingkungan pergaulan yang salah. Kembali dia menjadi bahan tulisan media beserta Kurniawan Dwi Yulianto yang kemudian hari, keduanya diminta menghadap ke PSSI. Tetapi seingat saya, hanya Mursid yang dimintai keterangan , sedangkan si Kurus tidak.

Dan setelah itu, dia berjanji kepada Pak Karwoto untuk tidak mengulangi kebiasaan itu, dan kami sangat bisa memahami alasan kenapa dia melakukan hal buruk itu, dan kamipun percaya dia sudah menjauhi barang haram tersebut hingga kini.

Buat saya, dia sosok penuh tanggung jawab kalau bukan pahlawan karena melakukan tindakan dengan patuh diwaktu yang salah. Berkorban demi ketidakmampuan rekan satu tim, yang gagal mengeksekusi karena tendangannya melenceng, dan akibat tindakan menolong teman, menolong rekan satu Tim, membela Timnas sekuat tenaga, membela Bendera Merah Putih, maka dia sendiri yang diakhir cerita menerima akibatnya sendirian.

Persebaya sendiri tentu saja dalam hal ini sangat dirugikan ketika itu, karena hampir sebagian besar pemain inti tidak diperbolehkan memperkuat Team ketika mengikuti Winners Cup Asia melawan Ulsan Hyundai FC baik di Ulsan Korea Selatan maupun di Gelora 10 November Tambaksari, hingga harus meminjam beberapa pemain dari klub lain (klub Persiraja dan klub Petrokimia Gresik). Jika ada yg menonton dan ingat pertandingan vs Hyundai Ulsan Tiger di Tambaksari ketika itu, di Tribun VIP banyak penonton memaki maki dan melempari Alm. Iswadi Idris karena dianggap representasi PSSI yang tidak mengijinkan para pemain Persebaya di Timnas untuk memperkuat klubnya sehingga kalah. Dan saya yakin, perlawanan kita bisa sangat bagus ketika itu bila diperkuat para pemain Persebaya yang sedang berada di Tim Nasional.

Buat saya, sosok nomer 6 adalah cermin dari karakter pemain-pemain Persebaya selama ini; militan, pejuang, suka menolong, satria dalam menjunjung tinggi atas apa yang sudah digariskan oleh Team, dan bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan.

Saya menulis ini sebagai sebuah tragedy, bukan kasus atau insiden memalukan karena di balik itu semua, ada tindakan terpuji dari orang yang dianggap bersalah dan memalukan.

Dan saat ini, 19 tahun kemudian -ketika kontributor melayangkan tulisan ini-, kejadian itu harus dia ingat kembali karena dia kembali dilarang untuk ikut kursus kepelatihan yang diadakan oleh PSSI, dan dengan alasan yang sama, yaitu melakukan tindakan tercela hingga dihukum seumur hidup untuk tidak bisa bermain di Timnas. Menyedihkan karena dia sekarang ini bukan lagi seorang pemain, tetapi seorang mantan pemain yang sudah malang melintang di kompetisi tertinggi sepakbola Indonesia lebih dari 15 tahun, dan ingin berbagi pengalaman dengan ingin menjadi Pelatih sepakbola. Lagipula, pelatih Alm. Rusdi Bahalwan yang menjadi pelatih Timnas ketika itu, masih diperbolehkan melatih klub sepakbola, begitu pula dengan rekanrekan di Timnas Piala Tiger dahulu, yang saat ini banyak diantara mereka sudah menjadi pelatih.

Begitu besarkah dosa yang harus dia pikul sendiri?, hingga 19 tahun kemudian, dimana dia sudah gantung sepatu, berkeluarga, dan ingin meneruskan mimpinya menjadi pelatih untuk sepakbola Indonesia adalah suatu yang salah?

Coba tanya Evan Dimas yang sekarang menjadi tulang punggung Timnas, siapa dulu yang mengorbitkan dia, dan kenapa dia memakai nomer punggung 6, bila bukan karena ingin menghormati gurunya yaitu Mursyid Effendi.

Lebih dari itu, bagi legenda Persebaya nomer 6 ini, sepak bola sudah merupakan aktivitas dia bertahun-tahun. Dia sudah banyak memberi kenangan indah buat kita selama bermain dibawah panji Persebaya, dan dia sudah banyak memberikan, dan menurunkan pelajaran tentang sepakbola kepada generasi baru. Sedih sekali saya ketika mendengar dia ditolak untuk ikut kursus kepelatihan AFC license oleh PSSI, dimana dia akan bisa menjadi kepala pelatih seperti yang dia inginkan, dan seperti rekan-rekannya.

Kami hanya bisa doakan semoga Yang di Atas mengabulkan dengan memberi dia jalan agar bisa mencapai cita-citanya untuk bisa ikut kursus kepelatihan AFC License seperti yang diperoleh rekan-rekannya di Persebaya, Aamiin…………….

Kisah selanjutnya (Part 2), segera di memorabola.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s